DWJ Manajement - PORTAL

Bos Pengusaha Bilang Transaksi Pakai Yuan-Rupiah Meroket 300%

Oleh: DWJ-Manajement 23 Jul 2026
Bos Pengusaha Bilang Transaksi Pakai Yuan-Rupiah Meroket 300%

Tantangan dalam Implementasi Skema Mata Uang Lokal

Meski menunjukkan hasil yang sangat positif, perjalanan menuju penggunaan mata uang lokal yang menyeluruh tentu tidak tanpa tantangan. Anindya Bakrie dan para pengamat ekonomi mencatat beberapa hal yang perlu diperhatikan ke depannya:

Pertama, adalah masalah likuiditas. Agar LCT dapat terus tumbuh, ketersediaan cadangan mata uang Yuan dan Rupiah di sistem perbankan harus tetap terjaga dalam jumlah yang memadai untuk mendukung volume perdagangan yang terus meningkat. Kedua, adalah edukasi pasar. Masih banyak pelaku usaha, terutama skala menengah dan kecil (UKM), yang belum sepenuhnya memahami mekanisme dan keuntungan teknis dari LCT, sehingga mereka masih merasa lebih nyaman menggunakan dolar karena sudah terbiasa sejak lama.

Ketiga, adalah perluasan mitra. Keberhasilan dengan China adalah awal yang baik. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mereplikasi keberhasilan ini dengan mitra dagang besar lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, atau negara-negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah, guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Mempererat Hubungan Dagang Indonesia dan China

Peningkatan transaksi ini juga menjadi simbol semakin eratnya hubungan ekonomi antara Indonesia dan China. Sebagai dua kekuatan ekonomi di kawasan Asia, kerja sama dalam sistem pembayaran ini menunjukkan kemauan politik (political will) yang kuat untuk menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih adil dan saling menguntungkan.

China merupakan mitra dagang terbesar Indonesia, di mana impor bahan baku industri, mesin, dan barang konsumsi dari China memegang peranan vital dalam rantai pasok nasional. Dengan kemudahan transaksi melalui LCT, arus barang dari China ke Indonesia dapat berjalan lebih lancar, yang pada gilirannya akan mendukung pertumbuhan sektor manufaktur di dalam negeri. Sebaliknya, eksportir komoditas unggulan Indonesia ke China juga akan mendapatkan kemudahan dalam menerima pembayaran dalam Rupiah atau Yuan yang lebih stabil.

Kenaikan transaksi sebesar 300 persen ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sebuah pesan kepada dunia bahwa kawasan Asia sedang bergerak menuju tatanan ekonomi baru yang lebih beragam dan tidak lagi terpaku pada satu kutub moneter saja.

Kesimpulan

Lonjakan transaksi menggunakan mata uang Yuan dan Rupiah sebesar 300 persen merupakan pencapaian monumental dalam upaya penguatan ekonomi nasional melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Keberhasilan ini membuktikan bahwa pengurangan ketergantungan pada dolar AS bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga memberikan keuntungan nyata bagi efisiensi biaya, kepastian bisnis, dan stabilitas nilai tukar Rupiah. Dengan dukungan infrastruktur dari Bank Indonesia dan peningkatan adopsi oleh pelaku usaha, skema LCT berpotensi menjadi fondasi baru yang memperkokoh ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global di masa depan.