Sebagai sosok yang diproyeksikan memimpin bank sentral, Destry Damayanti menekankan bahwa stabilitas nilai tukar bukan sekadar angka di papan bursa, melainkan fondasi bagi stabilitas harga di dalam negeri. Jika rupiah terus melemah secara ekstrem, maka biaya impor bahan baku akan melonjak, yang pada akhirnya akan memicu inflasi.
Destry mengisyaratkan bahwa kebijakan moneter harus mampu melakukan mitigasi risiko secara lebih proaktif. Ia berpendapat bahwa nilai tukar rupiah memiliki potensi untuk berada di level yang lebih kuat jika didukung oleh manajemen likuiditas yang tepat serta penguatan fundamental ekonomi yang mampu menarik minat investor jangka panjang, bukan sekadar aliran modal panas (hot money).
Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Sektor Riil dan Masyarakat
Pelemahan rupiah ke level Rp 17.700 per dolar AS bukan hanya masalah teknis di pasar keuangan, tetapi memiliki efek domino yang nyata terhadap berbagai lapisan ekonomi. Ketika nilai tukar melemah, beban ekonomi akan berpindah ke konsumen dan produsen dalam negeri.
1. Kenaikan Harga Barang Impor (Imported Inflation)
Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan vital, mulai dari bahan pangan, bahan baku industri, hingga komponen teknologi. Pelemahan rupiah secara otomatis meningkatkan biaya perolehan barang-barang tersebut. Hal ini sering kali berujung pada kenaikan harga di tingkat konsumen, yang dikenal sebagai inflasi impor.
2. Tekanan pada Sektor Industri Manufaktur
Banyak pelaku industri manufaktur di Indonesia yang mengandalkan bahan baku impor untuk proses produksi. Dengan kurs yang tinggi, margin keuntungan perusahaan akan tergerus. Jika perusahaan tidak mampu melakukan efisiensi, pilihannya hanya dua: menaikkan harga jual produk atau mengurangi kapasitas produksi, yang pada akhirnya dapat berdampak pada pengurangan tenaga kerja.
3. Beban Utang Luar Negeri
Bagi pemerintah maupun korporasi yang memiliki kewajiban pembayaran utang dalam denominasi dolar AS, pelemahan rupiah berarti beban pembayaran bunga dan pokok utang yang membengkak. Hal ini dapat mengganggu arus kas (cash flow) perusahaan dan memperlebar defisit anggaran jika beban tersebut ditanggung oleh negara.
Strategi yang Perlu Diambil Bank Indonesia ke Depan
Menanggapi situasi ini, para ahli ekonomi menyarankan agar Bank Indonesia tetap konsisten dengan mandatnya dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Langkah-langkah strategis yang perlu diperhatikan meliputi penggunaan instrumen suku bunga secara bijak serta intervensi di pasar valas yang terukur.
Berikut adalah beberapa langkah yang dinilai krusial bagi otoritas moneter: