2. Penggunaan Beras Biasa dengan Harga Premium
Dengan menyematkan label fortifikasi, pelaku usaha dapat menjual beras mereka dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan beras medium atau premium biasa. Secara ekonomi, ini adalah bentuk penipuan harga, di mana konsumen membayar selisih harga untuk manfaat nutrisi yang tidak pernah ada.
3. Pencampuran Zat Kimia Non-Pangan (Risiko Tinggi)
Yang paling mengkhawatirkan adalah adanya indikasi oknum tertentu mencoba memanipulasi tampilan fisik beras agar terlihat "berbeda" atau mengkilap, yang sering dikira sebagai tanda fortifikasi, padahal mungkin saja menggunakan bahan tambahan yang tidak memenuhi standar keamanan pangan (food grade).
Dampak Berbahaya bagi Konsumen: Ekonomi dan Kesehatan
Dampak dari peredaran beras fortifikasi palsu ini bersifat ganda. Pertama, dari sisi ekonomi, masyarakat kelas menengah ke bawah yang mencoba memperbaiki gizi keluarga justru dirugikan karena uang yang dikeluarkan tidak sebanding dengan manfaat yang didapat.
Kedua, dari sisi kesehatan, ini adalah ancaman serius. Masyarakat yang mengandalkan beras fortifikasi ini untuk memenuhi kebutuhan mikronutrien mereka—seperti ibu hamil atau anak-anak dalam masa pertumbuhan—akan tetap mengalami kekurangan gizi karena asupan yang mereka konsumsi tidak sesuai dengan harapan. Hal ini dapat menghambat program nasional pencegahan stunting yang sedang digencarkan oleh pemerintah.
Cara Membedakan Beras Fortifikasi Asli dengan yang Abal-abal
Agar tidak menjadi korban berikutnya, masyarakat perlu melakukan langkah-langkah preventif saat memilih beras di pasar. Berikut adalah beberapa panduan yang dapat Anda ikuti:
Cek Izin Edar Resmi: Pastikan produk beras tersebut memiliki nomor registrasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) atau izin edar dari Kementerian Pertanian. Produk fortifikasi yang legal wajib mencantumkan informasi ini dengan jelas.
Perhatikan Detail Tabel Informasi Nilai Gizi: Beras fortifikasi yang asli akan mencantumkan secara spesifik jenis vitamin atau mineral apa yang ditambahkan (misalnya: Zat Besi, Asam Folat, atau Vitamin B12) beserta jumlahnya dalam tabel informasi nilai gizi. Jika klaimnya hanya "beras sehat" tanpa rincian angka, Anda patut curiga.