Penguatan Ketahanan Sistem Keuangan: Memastikan bahwa transformasi digital tidak menciptakan celah risiko sistemik baru yang dapat meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan nasional.
Tantangan Kecerdasan Buatan (AI) terhadap Kebijakan Moneter
Salah satu poin yang paling menonjol dalam paparan Destry adalah mengenai kehadiran Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini telah mengubah cara data diproses dan bagaimana keputusan diambil di berbagai sektor, termasuk pasar keuangan. Bagi bank sentral, AI adalah pisau bermata dua.
Di satu sisi, AI dapat membantu bank sentral dalam melakukan analisis data makroekonomi secara real-time dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi. Kemampuan untuk memprediksi tren inflasi atau fluktuasi ekonomi melalui pemrosesan data raksasa (*big data*) memberikan keunggulan strategis dalam pengambilan keputusan kebijakan. Hal ini memungkinkan respon kebijakan yang lebih cepat dan tepat sasaran.
Namun, Destry mengingatkan adanya risiko signifikan jika teknologi ini tidak dikelola dengan bijak. Penggunaan algoritma perdagangan (*algorithmic trading*) yang sangat cepat dapat memicu volatilitas pasar yang ekstrem dalam waktu singkat. Selain itu, ketergantungan pada model AI yang mungkin memiliki bias atau kesalahan logika dapat menyebabkan kesalahan dalam proyeksi ekonomi, yang pada akhirnya berdampak fatal pada kebijakan suku bunga dan stabilitas nilai tukar.
Fragmentasi Global: Ancaman terhadap Stabilitas Ekonomi Dunia
Selain faktor teknologi, tantangan besar lainnya adalah fragmentasi geoekonomi. Selama beberapa dekade terakhir, dunia bergerak menuju globalisasi yang erat. Namun, belakangan ini, ketegangan geopolitik antara kekuatan-kekuatan ekonomi besar telah memicu tren de-globalisasi atau "de-risking".
Fragmentasi ini menciptakan sekat-sekat ekonomi. Perdagangan internasional tidak lagi hanya didasarkan pada efisiensi biaya, tetapi juga pada keselarasan politik. Hal ini berdampak langsung pada rantai pasok global yang menjadi lebih mahal dan tidak efisien, yang pada gilirannya dapat memicu inflasi struktural di berbagai negara.
Bagi bank sentral di negara berkembang, termasuk Indonesia, fragmentasi ini mempersulit tugas mereka. Arus modal global menjadi lebih sulit diprediksi karena sangat bergantung pada dinamika politik internasional. Kebijakan moneter di satu blok mungkin tidak lagi sinkron dengan blok lainnya, sehingga menciptakan ketidakseimbangan dalam aliran modal masuk dan keluar (*capital flows*) yang dapat mengancam stabilitas nilai tukar mata uang lokal.
Pentingnya Sinergi dan Integrasi Kebijakan