Menghadapi dua tantangan raksasa tersebut, Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral tidak bisa bekerja secara terisolasi. Diperlukan integrasi kebijakan yang luas, baik secara domestik maupun internasional.
Secara domestik, sinergi antara kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan regulasi sektor keuangan harus berjalan beriringan. Kebijakan moneter yang ketat tidak akan efektif jika tidak didukung oleh kebijakan fiskal yang disiplin dan regulasi perbankan yang kuat terhadap risiko digital. Integrasi ini penting untuk memastikan bahwa setiap langkah yang diambil untuk menstabilkan ekonomi tidak justru menciptakan risiko baru di sektor lain.
Secara internasional, koordinasi antar bank sentral menjadi mutlak. Dalam dunia yang terfragmentasi, kerja sama dalam pengaturan sistem pembayaran lintas batas (*cross-border payment*) dan standar keamanan siber menjadi sangat krusial. Hal ini bertujuan agar digitalisasi keuangan tetap aman dan tidak menciptakan sekat-sekat baru yang justru menghambat pertumbuhan ekonomi global.
Menuju Masa Depan Perbankan Sentral yang Resilien
Transformasi menuju era digital bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Bank sentral harus menjadi institusi yang paling adaptif terhadap perubahan. Hal ini mencakup kesiapan infrastruktur teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang memahami ekonomi sekaligus teknologi, hingga pengembangan instrumen kebijakan yang lebih canggih.
Pengembangan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau mata uang digital bank sentral juga menjadi salah satu langkah strategis yang perlu diperhatikan. CBDC diharapkan dapat menjadi tulang punggung sistem pembayaran masa depan yang lebih efisien, aman, dan inklusif, sekaligus memberikan kendali penuh kepada bank sentral atas stabilitas moneter di tengah maraknya aset kripto dan penyedia jasa pembayaran non-bank.
Kesimpulan
Pernyataan Pjs Gubernur BI, Destry Damayanti, menjadi pengingat penting bahwa peta jalan ekonomi dunia telah berubah secara fundamental. Tantangan dari era AI dan fragmentasi global menuntut bank sentral untuk bertransformasi dari sekadar "penjaga stabilitas harga" menjadi institusi yang proaktif, berbasis teknologi, dan mampu menavigasi kompleksitas geopolitik.
Keberhasilan dalam menyelesaikan empat PR besar—mulai dari adaptasi AI hingga mitigasi fragmentasi—akan menentukan sejauh mana sebuah negara dapat menjaga ketahanan ekonominya di tengah badai ketidakpastian global yang terus membayangi.
```