Penguatan Cadangan Devisa: Memastikan ketersediaan likuiditas yang cukup untuk meredam guncangan eksternal yang mungkin terjadi sewaktu-waktu.
Mitigasi Dampak 'Higher for Longer' Terhadap Nilai Tukar Rupiah
Tekanan dari kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat memaksa banyak investor untuk mengalihkan aset mereka kembali ke dolar AS, yang secara otomatis memperkuat posisi dolar dan menekan mata uang negara lain, termasuk Rupiah. Destry mengakui bahwa tantangan ini nyata dan membutuhkan koordinasi yang solid antara otoritas moneter dan pemerintah.
Bank Indonesia berkomitmen untuk melakukan intervensi yang efektif melalui strategi triple intervention. Strategi ini melibatkan intervensi di pasar valas (spot), pasar lindung nilai (DNDF), dan pasar surat berharga negara (SBN). Dengan melakukan intervensi di berbagai lini, BI bertujuan untuk memastikan bahwa pergerakan Rupiah tetap berada dalam koridor yang wajar dan mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.
“Kami tidak akan membiarkan volatilitas pasar yang tidak wajar mengganggu stabilitas ekonomi kita. Fokus kami adalah memastikan Rupiah bergerak stabil sesuai dengan fundamental ekonomi nasional yang masih sangat tangguh,” tegas Destry dalam rapat tersebut.
Kebijakan Makroprudensial: Mendukung Pertumbuhan Sektor Riil
Selain fokus pada stabilitas nilai tukar, Destry juga menekankan bahwa Bank Indonesia tetap menjalankan peran makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan sektor riil. Di tengah situasi suku bunga tinggi, BI berupaya agar transmisi kebijakan moneter tetap berjalan lancar tanpa mematikan geliat kredit di perbankan.
Kebijakan makroprudensial diarahkan untuk menjaga agar likuiditas di sistem perbankan tetap memadai guna mendukung penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas. Hal ini sangat penting agar meskipun suku bunga global tinggi, daya beli masyarakat dan kemampuan ekspansi dunia usaha di Indonesia tidak tergerus secara drastis.
Beberapa langkah makroprudensial yang terus dioptimalkan meliputi: