Pelonggaran Rasio LTV (Loan to Value): Untuk mendorong pertumbuhan sektor properti dan otomotif.
Insentif Likuiditas Makroprudensial: Memberikan kemudahan bagi perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor strategis seperti hilirisasi, ekonomi hijau, dan UMKM.
Manajemen Likuiditas Perbankan: Memastikan perbankan memiliki kapasitas yang cukup untuk menghadapi dinamika suku bunga.
Sinergi Antar-Otoritas: Kunci Ketahanan Ekonomi
Dalam pemaparannya di DPR, Gubernur BI juga menyoroti pentingnya sinergi antara Bank Indonesia dengan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Sinergi ini dianggap krusial untuk menjaga stabilitas harga pangan dan energi yang menjadi komponen utama inflasi domestik.
Destry menambahkan bahwa kebijakan moneter tidak dapat bekerja sendiri. Koordinasi kebijakan fiskal dari pemerintah dan kebijakan makroprudensial dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta pengawasan perbankan sangat diperlukan untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang stabil dan berkelanjutan. Kerja sama ini bertujuan agar guncangan dari luar negeri tidak langsung merambat ke sektor domestik secara destruktif.
Kesimpulan
Menghadapi era higher for longer, Bank Indonesia di bawah kepemimpinan Destry Damayanti telah menyiapkan strategi komprehensif yang mengombinasikan kebijakan moneter yang ketat namun terukur, intervensi pasar yang aktif, serta kebijakan makroprudensial yang mendukung pertumbuhan. Fokus utama BI tetap pada dua pilar penting: menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mengendalikan inflasi, sambil tetap memastikan sektor riil memiliki ruang untuk bertumbuh. Dengan sinergi kuat antara otoritas moneter, fiskal, dan pengawasan keuangan, Indonesia diharapkan mampu melewati ketidakpastian ekonomi global dengan ketahanan yang semakin kuat.