Penurunan Level Waduk: Curah hujan yang minim menyebabkan pengisian ulang (refilling) waduk menjadi sangat lambat, sementara pengeluaran air untuk turbin terus berjalan.
Peningkatan Penguapan: Suhu udara yang lebih panas selama musim kemarau meningkatkan laju evaporasi pada permukaan waduk.
Sedimentasi: Dalam beberapa kasus, perubahan pola aliran air dapat mempercepat proses sedimentasi yang mengurangi kapasitas tampung efektif bendungan.
Langkah Mitigasi PLN: Diversifikasi dan Teknologi BESS
Menanggapi defisit daya yang mencapai 650 MW tersebut, PT PLN (Persero) tidak tinggal diam. Perusahaan listrik negara tersebut tengah melakukan langkah cepat untuk menutup celah kekurangan pasokan dengan mengoptimalkan sumber energi lain yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Salah satu strategi utama yang diambil adalah percepatan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Berbeda dengan PLTA yang bergantung pada air, PLTS justru mendapatkan potensi maksimal saat cuaca panas dan terik matahari melimpah—kondisi yang sering menyertai fenomena El Nino.
Implementasi Battery Energy Storage System (BESS)
Namun, penggunaan energi surya memiliki tantangan tersendiri, yaitu sifatnya yang intermiten atau tidak stabil (listrik hanya tersedia saat matahari bersinar). Untuk mengatasi hal ini, PLN mulai mengintegrasikan teknologi Battery Energy Storage System (BESS) ke dalam sistem kelistrikan di Sulawesi.
BESS berfungsi sebagai "penampung" energi cadangan. Berikut adalah beberapa manfaat utama penggunaan BESS dalam menjaga stabilitas grid:
Stabilisasi Frekuensi: BESS mampu merespons perubahan beban secara instan, menjaga agar frekuensi listrik tetap stabil meskipun ada fluktuasi dari PLTS atau penurunan mendadak dari PLTA.
Penyimpanan Energi Surplus: Saat produksi PLTS mencapai puncaknya di siang hari, kelebihan energi dapat disimpan dalam baterai untuk digunakan saat matahari mulai terbenam.