Ekonom Danamon Prediksi Rupiah Tembus Rp18.032 per US$ pada Akhir 2026
Tekanan harga energi dunia dan risiko inflasi global menjadi pemicu utama pelemahan mata uang nasional.
Proyeksi Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Mata uang rupiah diprediksi akan terus mengalami tekanan hingga akhir tahun 2026. Ekonom dari Bank Danamon mengeluarkan proyeksi bahwa nilai tukar rupiah dapat menyentuh angka Rp18.032 per dolar Amerika Serikat (US$).
Prediksi ini mencerminkan tantangan berat yang akan dihadapi ekonomi domestik dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi pasar keuangan global diprediksi akan tetap volatil dan penuh ketidakpastian.
Faktor Utama Pemicu Tekanan Rupiah
Pelemahan nilai tukar ini tidak terjadi tanpa alasan yang kuat. Para ahli mengidentifikasi sejumlah faktor fundamental yang dapat memicu depresiasi rupiah secara berkelanjutan.
1. Lonjakan Harga Energi Dunia
Harga energi yang tinggi menjadi salah satu beban utama bagi neraca perdagangan. Kenaikan harga komoditas energi global dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS untuk transaksi internasional.
2. Risiko Inflasi Global
Selain faktor energi, risiko inflasi di tingkat global juga membayangi stabilitas nilai tukar. Ketidakpastian arah kebijakan moneter di negara-negara maju turut memperburuk posisi mata uang negara berkembang.
Ringkasan Faktor Risiko Ekonomi
Fluktuasi harga komoditas energi global yang tidak menentu.
Tekanan inflasi global yang dapat memicu kebijakan suku bunga tinggi.
Sentimen pasar terhadap mata uang di negara berkembang (emerging markets).
Kesimpulan
Secara keseluruhan, proyeksi rupiah di level Rp18.032 pada akhir 2026 merupakan peringatan penting bagi stabilitas ekonomi nasional. Diperlukan kewaspadaan tinggi dalam memantau dinamika harga energi dunia serta kebijakan inflasi global guna memitigasi dampak pelemahan mata uang tersebut.