Meski optimisme sedang tinggi, Herman Saherudin dan para pengamat ekonomi tetap mengingatkan agar pemerintah tidak terlena. Meskipun fondasi ekonomi saat ini solid, tantangan masa depan tetap ada dan bisa muncul kapan saja secara tidak terduga.
Beberapa risiko yang perlu diantisipasi antara lain:
Perubahan Pola Perdagangan Global: Pergeseran rantai pasok global dapat memengaruhi sektor ekspor unggulan Indonesia.
Volatilitas Harga Energi dan Pangan: Kenaikan harga energi dunia dapat menekan biaya produksi domestik dan memicu inflasi.
Risiko Ketegangan Geopolitik: Konflik yang meluas di Timur Tengah atau wilayah lainnya dapat mengganggu stabilitas pasokan global secara mendadak.
Perubahan Iklim: Dampak perubahan iklim pada sektor pertanian dapat memengaruhi ketahanan pangan dan stabilitas harga domestik.
Oleh karena karena itu, penguatan fondasi ekonomi yang sudah ada harus terus dilakukan. Diversifikasi ekonomi, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi industri, dan transformasi digital di berbagai sektor menjadi agenda penting untuk memastikan pertumbuhan tidak hanya terjadi, tetapi juga berkualitas dan inklusif.
Kesimpulan
Pernyataan Dirjen Kekayaan Negara, Herman Saherudin, mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang konsisten di atas 5 persen di tengah gejolak global adalah sebuah pengakuan atas ketangguhan struktur ekonomi nasional. Fondasi ekonomi yang kuat, yang didorong oleh konsumsi domestik, investasi, dan pengelolaan fiskal yang disiplin, telah membuktikan kemampuannya dalam menghadapi badai ekonomi dunia.
Namun, menjaga momentum ini tetap menjadi tugas berat bagi pemerintah. Diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap dinamika global serta komitmen berkelanjutan dalam mengelola kekayaan negara dan melakukan reformasi struktural agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi terus melaju menuju visi Indonesia Maju.