Sektor manufaktur menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan rantai pasok global. Dengan kebijakan hilirisasi yang terus diperkuat, nilai tambah dari produk ekspor Indonesia meningkat secara signifikan. Meskipun permintaan dari mitra dagang utama dunia mengalami fluktuasi, diversifikasi pasar ekspor yang dilakukan pemerintah dan pelaku usaha telah memitigasi risiko penurunan pendapatan negara dari sektor ekspor.
Resiliensi Terhadap Gejolak Ekonomi Dunia
Salah satu aspek yang paling menonjol dari laporan pertumbuhan kuartal II-2026 ini adalah bagaimana Indonesia mampu melakukan "defensif" sekaligus "ofensif" di tengah badai global. Dunia saat ini tengah menghadapi tantangan kompleks, mulai dari ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia hingga kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju yang memicu aliran modal keluar (capital outflow).
Namun, Indonesia berhasil memitigasi dampak tersebut melalui beberapa langkah strategis:
Stabilitas Nilai Tukar: Kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas Rupiah terbukti efektif meredam tekanan dari volatilitas pasar keuangan global.
Manajemen Cadangan Devisa: Cadangan devisa yang kuat memberikan bantalan (buffer) yang cukup bagi pemerintah untuk menghadapi guncangan eksternal.
Diversifikasi Pasar: Pengurangan ketergantungan pada pasar tradisional dan peningkatan kerja sama ekonomi dengan negara-negara di kawasan non-tradisional memperkuat posisi tawar Indonesia.
Optimisme Piter Abdullah: Pertumbuhan Akan Berlanjut
Menanggapi capaian positif ini, ekonom senior Piter Abdullah menyatakan optimisme yang tinggi terhadap keberlanjutan tren pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, angka 5,29 persen adalah modal yang sangat baik untuk menjaga momentum di sisa tahun 2026.
"Kita melihat adanya ketahanan yang luar biasa dari struktur ekonomi kita. Meskipun tekanan global tidak bisa dihindari, namun fundamental domestik kita sudah cukup kuat untuk meredam guncangan tersebut. Saya optimis bahwa pertumbuhan ekonomi ini akan terus berlanjut, asalkan konsumsi domestik tetap terjaga dan investasi terus mengalir ke sektor-sektor produktif," ujar Piter Abdullah dalam keterangannya.
Piter juga menambahkan bahwa pemerintah perlu terus waspada terhadap risiko-risiko yang mungkin muncul secara tiba-tiba. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara menjaga pertumbuhan yang tinggi dengan menjaga stabilitas harga-harga di tingkat konsumen agar daya beli tidak mengalami penurunan di kuartal-kuartal berikutnya.