Optimalisasi Infrastruktur yang Ada: Memanfaatkan kapasitas jalur dan fasilitas stasiun yang dapat diadaptasi untuk layanan commuter.
Mendukung Konsep Transit Oriented Development (TOD): Memperkuat ekosistem transportasi yang terintegrasi di sekitar area pusat kota.
Tantangan Teknis dan Kesiapan Infrastruktur
Meskipun rencana ini terdengar sangat menguntungkan bagi masyarakat, PT KAI menyadari bahwa implementasi layanan KRL di Stasiun Gambir bukanlah perkara mudah. Mengubah fungsi sebuah stasiun besar yang sudah memiliki ritme operasional kereta api jarak jauh yang ketat memerlukan perencanaan teknis yang sangat matang.
Salah satu tantangan terbesar adalah pengaturan jadwal (headway). Stasiun Gambir memiliki jadwal keberangkatan kereta api eksekutif dan bisnis yang sangat padat. Masuknya jadwal KRL Commuter Line yang memiliki frekuensi keberangkatan tinggi memerlukan sinkronisasi sistem persinyalan yang canggih agar tidak terjadi bentrokan jadwal atau keterlambatan pada kereta jarak jauh.
Selain itu, aspek infrastruktur fisik juga menjadi perhatian utama, di antaranya:
Penataan Peron: Penyesuaian tinggi dan lebar peron agar sesuai dengan standar keamanan penumpang KRL.
Sistem Persinyalan: Modernisasi sistem kendali perjalanan kereta api untuk mengatur lalu lintas kereta commuter dan jarak jauh secara simultan.
Fasilitas Penumpang: Penambahan akses masuk, mesin tiket otomatis (TVM), serta integrasi gate dengan kartu uang elektronik yang lebih masif.