Aksi Profit Taking: Setelah sempat mengalami penguatan di periode sebelumnya, banyak investor besar yang memilih untuk merealisasikan keuntungan mereka.
Sentimen Sektoral: Adanya tekanan pada sektor-sektor tertentu yang memiliki bobot besar terhadap IHSG turut memperparah pelemahan indeks.
Meskipun secara agregat asing melakukan net sell, pergerakan ini tidak merata di seluruh saham. Hal ini menunjukkan bahwa investor asing tidak sepenuhnya keluar dari pasar Indonesia, melainkan sedang melakukan rotasi sektor atau melakukan seleksi ketat terhadap saham-saham yang dianggap masih memiliki prospek pertumbuhan tinggi.
Fenomena 'Serok Bawah': Strategi Akumulasi di Tengah Koreksi
Menariknya, di balik rapor merah IHSG, terdapat pergerakan akumulasi yang dilakukan oleh investor asing pada sekitar 10 saham tertentu. Fenomena ini sering disebut oleh para pelaku pasar sebagai strategi "buy on weakness". Investor asing tampaknya melihat bahwa koreksi yang terjadi pada saham-saham pilihan ini merupakan kesempatan emas untuk membeli di harga murah.
Saham-saham yang menjadi target akumulasi ini umumnya memiliki karakteristik tertentu yang membuatnya tetap menarik meskipun pasar sedang lesu. Berikut adalah karakteristik saham yang biasanya "diserok" oleh investor asing saat terjadi koreksi pasar:
1. Memiliki Fundamental yang Kokoh
Investor asing cenderung menghindari saham yang hanya bersifat spekulatif saat pasar mengalami tekanan. Mereka lebih memilih emiten dengan laporan keuangan yang sehat, arus kas yang kuat, dan tingkat utang yang terkendali. Saham-saham ini dianggap mampu bertahan (resilient) dalam berbagai kondisi ekonomi.
2. Bagian dari Indeks Blue Chip
Saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar (big cap) yang masuk dalam indeks LQ45 sering kali menjadi sasaran utama. Saham-saham ini memiliki likuiditas yang tinggi, sehingga memudahkan investor asing untuk masuk maupun keluar dalam jumlah besar tanpa mengganggu stabilitas harga secara ekstrem.
3. Memiliki Prospek Dividen yang Menarik