DWJ Manajement - PORTAL

IHSG Anjlok 1,02%, Asing Malah Serok 10 Saham Ini

Oleh: DWJ-Manajement • 02 Oct 2026
IHSG Anjlok 1,02%, Asing Malah Serok 10 Saham Ini

Di tengah fluktuasi harga saham, imbal hasil dari dividen menjadi daya tarik tersendiri. Saham yang secara rutin membagikan dividen dengan yield yang kompetitif sering kali menjadi tempat bernaung aman (safe haven) bagi dana asing selama masa volatilitas.

4. Valuasi yang Masih Tergolong Murah

Koreksi harga yang membawa valuasi saham (seperti Price to Earnings Ratio atau Price to Book Value) ke level yang lebih rendah dari rata-rata historisnya akan menarik minat investor untuk melakukan akumulasi.

Analisis Teknis: Menanti Kekuatan di Level Support

Secara teknikal, penurunan IHSG ke level 6.009,50 menunjukkan adanya tekanan jual yang cukup kuat. Para analis memperhatikan apakah IHSG mampu mempertahankan level 6.000 sebagai support kuat. Jika IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, maka ada potensi untuk melakukan pembalikan arah (rebound) dalam jangka pendek.

Namun, investor perlu mewaspadai jika volume perdagangan saat penurunan cenderung meningkat, karena hal tersebut bisa mengindikasikan adanya tekanan distribusi yang masif. Sebaliknya, jika IHSG mampu konsolidasi di area 6.000 dengan volume yang mengecil, itu bisa menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda.

Bagi investor ritel, situasi ini menuntut kehati-hatian ekstra. Strategi yang paling bijak saat ini adalah tidak terburu-buru melakukan "catch a falling knife" atau membeli saham yang sedang turun tajam tanpa dasar yang jelas. Mengikuti jejak akumulasi asing pada saham-saham pilihan bisa menjadi alternatif, namun tetap harus memperhatikan manajemen risiko dan diversifikasi portofolio.

Kesimpulan

Koreksi IHSG sebesar 1,02% ke level 6.009,50 merupakan dinamika pasar yang wajar, terutama dengan adanya aksi jual bersih asing sebesar Rp241,86 miliar. Namun, koreksi ini tidak serta-merta menunjukkan pesimisme pasar secara keseluruhan. Pergerakan investor asing yang justru melakukan akumulasi pada 10 saham pilihan menunjukkan bahwa masih ada kepercayaan terhadap nilai intrinsik emiten-emiten tertentu di Indonesia.

Para investor disarankan untuk tetap fokus pada analisis fundamental dan memantau pergerakan level support teknikal. Memanfaatkan momentum koreksi untuk masuk ke saham-saham berkualitas tinggi (blue chip) yang sedang diakumulasi asing dapat menjadi strategi yang potensial, asalkan tetap dilakukan dengan perhitungan manajemen risiko yang matang.

```