Optimalisasi Pendapatan Non-Tiket: Mendorong pengembangan kawasan ekonomi di sekitar stasiun (Transit Oriented Development/TOD) guna meningkatkan pendapatan di luar penjualan tiket.
Komitmen Pemerintah Terhadap Keberlanjutan Proyek Strategis
Pihak Istana juga menggarisbawahi bahwa Whoosh bukan sekadar proyek transportasi, melainkan bagian dari transformasi ekonomi jangka panjang. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk menjaga agar proyek ini tidak menjadi beban fiskal yang tidak terkendali, namun tetap memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Koordinasi antara Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, dan Kementerian Perhubungan terus diperkuat untuk memantau setiap aspek finansial dari proyek ini. Pemerintah memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan dari anggaran negara harus dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki dampak pengganda (multiplier effect) yang nyata bagi masyarakat luas.
Tantangan Finansial dan Dampak Terhadap APBN
Meskipun Istana memberikan penjelasan, para pengamat ekonomi tetap memberikan catatan kritis. Kekhawatiran utama terletak pada bagaimana penanggungan utang ini akan mempengaruhi postur APBN dalam beberapa tahun ke depan. Jika skema yang diambil adalah pemberian jaminan atau suntikan modal langsung, maka ruang fiskal untuk sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan harus dijaga dengan sangat ketat.
Beberapa faktor yang dianggap menjadi pemicu besarnya beban utang pada proyek kereta cepat ini meliputi:
Kenaikan Biaya Konstruksi: Adanya pembengkakan biaya (cost overrun) selama masa pembangunan akibat berbagai faktor teknis dan non-teknis.
Fluktuasi Nilai Tukar: Mengingat sebagian besar pendanaan melibatkan pinjaman luar negeri, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS memberikan tekanan tambahan pada kewajiban pembayaran utang.
Target Penumpang: Realisasi jumlah penumpang harian yang masih dalam tahap stabilisasi pasca-operasional penuh.