Salah satu pilar utama dalam strategi Destry adalah penerapan kebijakan moneter yang pruden. Hal ini mencakup pengelolaan suku bunga acuan yang harus responsif terhadap dinamika inflasi domestik serta pergerakan suku bunga global. Destry berargumen bahwa kebijakan suku bunga tidak boleh hanya bereaksi terhadap tekanan rupiah, tetapi harus didasarkan pada data fundamental ekonomi Indonesia yang kuat.
Dengan menjaga tingkat inflasi dalam sasaran yang ditetapkan, kepercayaan investor terhadap nilai riil rupiah akan tetap terjaga. Hal ini secara tidak langsung akan membantu menstabilkan nilai tukar melalui mekanisme pasar yang lebih sehat.
Penguatan Sinergi Kebijakan Fiskal dan Moneter
Salah satu poin paling krusial yang disampaikan Destry adalah urgensi koordinasi antara Bank Indonesia dengan Pemerintah, khususnya melalui Kementerian Keuangan. Sinergi antara kebijakan moneter (BI) dan kebijakan fiskal (Pemerintah) adalah kunci untuk menciptakan stabilitas makroekonomi yang berkelanjutan.
Destry menekankan bahwa:
Harmonisasi Kebijakan: Kebijakan fiskal yang ekspansif untuk mendorong pertumbuhan harus selaras dengan kebijakan moneter agar tidak terjadi ketidakteraturan pasar.
Pengelolaan Utang Negara: Koordinasi dalam pengelolaan pembiayaan defisit anggaran sangat penting untuk memastikan bahwa permintaan terhadap surat utang negara tidak memberikan tekanan berlebih pada nilai tukar.
Stabilitas Harga Pangan: Bekerja sama dengan pemerintah dalam menjaga pasokan pangan guna menekan inflasi dari sisi suplai (supply-side inflation).
Instrumen Utama Penjaga Stabilitas Kurs
Selain sinergi kebijakan, Destry juga menyoroti penggunaan instrumen-instrumen kebijakan Bank Indonesia yang harus dilakukan secara efektif dan efisien. Ia tidak melihat intervensi sebagai satu-satunya solusi, melainkan sebagai bagian dari rangkaian strategi yang lebih luas.
Intervensi Pasar yang Terukur
Destry mengusulkan agar intervensi di pasar valas tetap dilakukan secara terukur. Konsep intervensi tidak boleh dilakukan secara membabi buta yang justru dapat menguras cadangan devisa, melainkan harus dilakukan pada titik-titik krusial di mana volatilitas dianggap tidak wajar dan dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan.
Strategi "Triple Intervention" yang selama ini dijalankan perlu terus dievaluasi dan dipertajam, mencakup intervensi di pasar spot, pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Optimalisasi Cadangan Devisa