Strategi '3I dan 1S': Visi Besar Destry Damayanti untuk Masa Depan Bank Indonesia
Calon Gubernur BI ini paparkan peta jalan kebijakan moneter dan makroprudensial guna menjawab tantangan ketidakpastian ekonomi global.
JAKARTA - Proses pemilihan kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) memasuki babak krusial. Di hadapan para anggota Komisi XI DPR RI, calon Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, memaparkan visi dan misi strategisnya jika nantinya dipercaya untuk menahkodai bank sentral Indonesia. Dalam pemaparannya, Destry memperkenalkan sebuah formula fundamental yang ia sebut sebagai '3I dan 1S'—sebuah kerangka kerja yang dirancang untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah badai ketidakpastian global.
Destry menegaskan bahwa peran Bank Indonesia tidak lagi sekadar menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Di era ekonomi digital dan volatilitas geopolitik yang tinggi, BI harus bertransformasi menjadi institusi yang lebih responsif, adaptif, dan memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat luas. Melalui rumus '3I dan 1S', Destry menawarkan pendekatan yang lebih holistik dalam menjalankan mandat kebijakan moneter, makroprudensial, serta sistem pembayaran.
Memahami Formula '3I dan 1S' dalam Kebijakan Bank Indonesia
Dalam sesi dengar pendapat tersebut, Destry merinci secara mendalam apa yang dimaksud dengan komponen-komponen dalam rumusnya. Menurutnya, setiap kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia harus melewati filter dari empat pilar utama tersebut agar tidak hanya menjadi angka-angka statistik di atas kertas, tetapi menjadi solusi nyata bagi perekonomian Indonesia.
1. Impactful: Kebijakan yang Berdampak Nyata
Komponen pertama adalah Impactful atau berdampak. Destry menekankan bahwa setiap instrumen kebijakan moneter dan makroprudensial yang dikeluarkan oleh BI harus memiliki daya ungkit yang kuat terhadap sektor riil. Ia berargumen bahwa menjaga stabilitas harga adalah kewajiban, namun menjaga agar stabilitas tersebut dapat mendukung pertumbuhan ekonomi adalah sebuah tantangan yang lebih besar.
Kebijakan yang impactful berarti BI harus mampu memastikan bahwa transmisi kebijakan moneter berjalan efektif hingga ke tingkat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia tidak ingin kebijakan suku bunga atau kebijakan likuiditas hanya berputar di pasar keuangan formal, tetapi harus mampu memberikan ruang bagi dunia usaha untuk berekspansi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong konsumsi rumah tangga yang sehat.
2. Inklusif: Menjangkau Seluruh Lapisan Ekonomi
Pilar kedua adalah Inklusif. Destry menyadari adanya kesenjangan akses keuangan yang masih menjadi tantangan di Indonesia. Dalam visinya, Bank Indonesia harus menjadi motor penggerak inklusi keuangan melalui penguatan sistem pembayaran digital dan pengembangan infrastruktur keuangan yang dapat diakses oleh masyarakat di pelosok negeri.
Inklusivitas dalam konteks ini mencakup beberapa aspek penting: