DWJ Manajement - PORTAL

Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Bandara Supadio

Oleh: DWJ-Manajement 16 Sep 2026
Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Bandara Supadio

Keluhan Penumpang Terkait Kesehatan dan Kenyamanan

Tak hanya persoalan keterlambatan, aspek kesehatan juga menjadi perhatian utama. Kabut asap karhutla mengandung partikel berbahaya seperti PM2.5 yang dapat masuk ke dalam sistem pernapasan manusia. Penumpang, terutama lansia, anak-anak, dan individu dengan riwayat penyakit pernapasan, sangat rentan terhadap dampak buruk asap ini.

Beberapa penumpang mengeluhkan mata perih, tenggorokan kering, hingga sesak napas saat berada di lingkungan bandara. Kondisi ini memperburuk pengalaman perjalanan yang seharusnya nyaman, menjadi sebuah perjuangan fisik bagi mereka yang harus melewati area terdampak asap.

Aspek Keselamatan: Mengapa Kabut Asap Sangat Berbahaya bagi Pesawat?

Mungkin banyak masyarakat awam yang bertanya, mengapa asap saja bisa mengganggu penerbangan? Jawabannya terletak pada dua faktor utama: Visibilitas dan Kualitas Udara.

Secara teknis, petugas navigasi menggunakan alat yang disebut Runway Visual Range (RVR) untuk mengukur jarak pandang di landasan pacu. Jika nilai RVR berada di bawah standar minimal untuk tipe pesawat tertentu, maka operasional tidak diperbolehkan. Pilot membutuhkan pandangan yang jelas terhadap lampu landasan (runway lights) dan tanda-tanda navigasi lainnya untuk melakukan pendaratan dengan aman, terutama pada kondisi minim cahaya.

Selain visibilitas, partikel asap yang sangat halus juga berisiko masuk ke dalam mesin jet pesawat. Meskipun mesin pesawat dirancang untuk beroperasi dalam berbagai kondisi, konsentrasi partikel yang sangat tinggi dalam asap dapat menyebabkan gangguan pada pembakaran di dalam mesin, yang dalam skenario ekstrem dapat menurunkan performa mesin secara mendadak.

Prosedur Standar Penanganan Kabut Asap

Untuk memitigasi risiko, otoritas penerbangan menerapkan protokol ketat, di antaranya:

Pemantauan RVR secara kontinu: Memastikan data jarak pandang selalu akurat setiap menitnya.

Penerapan prosedur pendaratan instrumen: Pilot menggunakan alat navigasi berbasis instrumen (ILS) jika visibilitas memungkinkan, namun tetap dibatasi oleh ambang batas minimum.

Koordinasi darurat: Jika visibilitas drop secara tiba-tiba, pesawat yang sedang dalam perjalanan akan diarahkan untuk melakukan holding pattern (berputar di udara) atau melakukan divert (dialihkan) ke bandara lain yang lebih aman.

Penyebab Utama: Karhutla yang Kian Meluas

Masalah kabut asap di Bandara Supadio tidak berdiri sendiri. Ini adalah gejala dari masalah yang lebih besar, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif di Kalimantan Barat. Lahan gambut yang menjadi area kebakaran memiliki karakteristik unik; ketika terbakar, api dapat merambat di bawah permukaan tanah (ground fire), menghasilkan asap yang sangat pekat dan sulit dipadamkan.

Beberapa faktor yang diduga menjadi pemicu meningkatnya karhutla antara lain: