DWJ Manajement - PORTAL

Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Bandara Supadio

Oleh: DWJ-Manajement 16 Sep 2026
Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Bandara Supadio

Kabut Asap Karhutla Selimuti Bandara Supadio, Penerbangan Terganggu dan Jarak Pandang Menurun Drastis

Aktivitas di Bandara Supadio, Kubu Raya, kini terkendala akibat pekatnya kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan yang meluas.

KUBU RAYA – Kondisi udara di sekitar Bandara Internasional Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, kini tengah dalam situasi yang memprihatinkan. Kabut asap tebal yang berasal dari aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik di Kalimantan Barat mulai menyelimuti area bandara, yang berdampak langsung pada operasional penerbangan dan kenyamanan para penumpang.

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa jarak pandang (visibility) di landasan pacu dan area terminal mengalami penurunan yang cukup signifikan. Fenomena ini bukan hanya sekadar gangguan visual bagi para penumpang, namun juga menjadi ancaman serius bagi aspek keselamatan penerbangan. Kabut asap yang pekat membuat pilot dan petugas navigasi udara harus ekstra waspada dalam menjalankan prosedur take-off maupun landing.

Kabut Asap Tebal Mengintai Operasional Bandara Supadio

Munculnya kabut asap ini merupakan dampak langsung dari meningkatnya intensitas kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitar Kubu Raya dan sekitarnya. Seiring dengan musim kemarau yang berkepanjangan, lahan gambut yang kering sangat mudah terbakar, dan asap yang dihasilkan cenderung bertahan lama di udara karena faktor kelembapan dan arah angin.

Di Bandara Supadio, kabut asap ini menciptakan suasana yang mencekam dan tidak nyaman. Penumpang yang menunggu di ruang tunggu terlihat mulai mengeluhkan kualitas udara yang buruk. Bau menyengat dari asap kebakaran tercium hingga ke dalam area terminal, memaksa pihak pengelola bandara untuk meningkatkan sistem filtrasi udara atau setidaknya memastikan sirkulasi udara di dalam gedung tetap terjaga agar tidak membahayakan kesehatan penumpang.

Selain masalah kualitas udara, visibilitas yang rendah menjadi kendala teknis utama. Dalam dunia penerbangan, jarak pandang adalah parameter krusial. Jika jarak pandang jatuh di bawah standar minimum yang ditetapkan oleh otoritas penerbangan, maka jadwal penerbangan dapat mengalami penundaan (delay) atau bahkan pembatalan total demi menjaga keselamatan jiwa.

Dampak Signifikan bagi Penumpang dan Maskapai

Gangguan pada jadwal penerbangan menjadi dampak paling nyata yang dirasakan oleh masyarakat. Sejumlah maskapai dilaporkan mulai melakukan penyesuaian jadwal akibat kondisi cuaca dan visibilitas yang tidak mendukung. Hal ini menyebabkan penumpukan penumpang di ruang tunggu dan ketidakpastian jadwal keberangkatan maupun kedatangan.

Berikut adalah beberapa dampak utama yang dirasakan akibat gangguan kabut asap di Bandara Supadio:

Keterlambatan Jadwal (Delay): Pesawat tidak dapat mendarat atau lepas landas jika jarak pandang berada di bawah batas aman operasional.

Pembatalan Penerbangan: Jika kondisi kabut asap menetap dalam waktu lama dan visibilitas tidak kunjung membaik, maskapai terpaksa melakukan pembatalan demi alasan keselamatan.

Kerugian Ekonomi: Penumpang yang memiliki kepentingan mendesak seperti bisnis atau perjalanan medis mengalami kerugian waktu dan materiil yang tidak sedikit.

Gangguan Logistik: Selain penumpang, pengiriman barang melalui jalur udara juga mengalami hambatan, yang dapat berdampak pada rantai pasok di wilayah Kalimantan Barat.

Pihak maskapai terus melakukan koordinasi dengan otoritas bandara untuk memantau perkembangan kondisi cuaca dan visibilitas secara real-time. Penumpang dihimbau untuk selalu memperbarui informasi melalui kanal resmi maskapai atau pengumuman di bandara sebelum melakukan perjalanan.

Keluhan Penumpang Terkait Kesehatan dan Kenyamanan

Tak hanya persoalan keterlambatan, aspek kesehatan juga menjadi perhatian utama. Kabut asap karhutla mengandung partikel berbahaya seperti PM2.5 yang dapat masuk ke dalam sistem pernapasan manusia. Penumpang, terutama lansia, anak-anak, dan individu dengan riwayat penyakit pernapasan, sangat rentan terhadap dampak buruk asap ini.

Beberapa penumpang mengeluhkan mata perih, tenggorokan kering, hingga sesak napas saat berada di lingkungan bandara. Kondisi ini memperburuk pengalaman perjalanan yang seharusnya nyaman, menjadi sebuah perjuangan fisik bagi mereka yang harus melewati area terdampak asap.

Aspek Keselamatan: Mengapa Kabut Asap Sangat Berbahaya bagi Pesawat?

Mungkin banyak masyarakat awam yang bertanya, mengapa asap saja bisa mengganggu penerbangan? Jawabannya terletak pada dua faktor utama: Visibilitas dan Kualitas Udara.

Secara teknis, petugas navigasi menggunakan alat yang disebut Runway Visual Range (RVR) untuk mengukur jarak pandang di landasan pacu. Jika nilai RVR berada di bawah standar minimal untuk tipe pesawat tertentu, maka operasional tidak diperbolehkan. Pilot membutuhkan pandangan yang jelas terhadap lampu landasan (runway lights) dan tanda-tanda navigasi lainnya untuk melakukan pendaratan dengan aman, terutama pada kondisi minim cahaya.

Selain visibilitas, partikel asap yang sangat halus juga berisiko masuk ke dalam mesin jet pesawat. Meskipun mesin pesawat dirancang untuk beroperasi dalam berbagai kondisi, konsentrasi partikel yang sangat tinggi dalam asap dapat menyebabkan gangguan pada pembakaran di dalam mesin, yang dalam skenario ekstrem dapat menurunkan performa mesin secara mendadak.

Prosedur Standar Penanganan Kabut Asap

Untuk memitigasi risiko, otoritas penerbangan menerapkan protokol ketat, di antaranya:

Pemantauan RVR secara kontinu: Memastikan data jarak pandang selalu akurat setiap menitnya.

Penerapan prosedur pendaratan instrumen: Pilot menggunakan alat navigasi berbasis instrumen (ILS) jika visibilitas memungkinkan, namun tetap dibatasi oleh ambang batas minimum.

Koordinasi darurat: Jika visibilitas drop secara tiba-tiba, pesawat yang sedang dalam perjalanan akan diarahkan untuk melakukan holding pattern (berputar di udara) atau melakukan divert (dialihkan) ke bandara lain yang lebih aman.

Penyebab Utama: Karhutla yang Kian Meluas

Masalah kabut asap di Bandara Supadio tidak berdiri sendiri. Ini adalah gejala dari masalah yang lebih besar, yakni kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif di Kalimantan Barat. Lahan gambut yang menjadi area kebakaran memiliki karakteristik unik; ketika terbakar, api dapat merambat di bawah permukaan tanah (ground fire), menghasilkan asap yang sangat pekat dan sulit dipadamkan.

Beberapa faktor yang diduga menjadi pemicu meningkatnya karhutla antara lain:

Fenomena El Nino: Kemarau panjang yang menyebabkan tanah dan lahan gambut menjadi sangat kering.

Aktivitas Pembukaan Lahan: Praktik membakar lahan untuk tujuan pertanian atau perkebunan yang seringkali tidak terkendali.

Kondisi Geografis: Luasnya lahan gambut di Kalimantan membuat pemadaman api menjadi tantangan logistik yang sangat berat bagi petugas pemadam kebakaran dan BPBD.

Pemerintah daerah dan instansi terkait terus berupaya melakukan pemadaman melalui jalur darat maupun udara (water bombing). Namun, tantangan cuaca yang panas dan angin yang kencang seringkali membuat upaya pemadaman menemui jalan buntu.

Langkah Antisipasi dan Imbauan bagi Masyarakat

Menghadapi situasi ini, otoritas Bandara Supadio bersama pemerintah daerah telah mengambil langkah-langkah mitigasi. Penguatan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi prioritas untuk memprediksi pergerakan asap.

Bagi masyarakat, terutama yang akan melakukan perjalanan melalui Bandara Supadio, berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Cek Jadwal Secara Berkala: Jangan langsung menuju bandara tanpa memastikan status penerbangan Anda melalui aplikasi atau call center maskapai.

Gunakan Masker: Gunakan masker jenis N95 atau masker medis yang mampu menyaring partikel halus untuk melindungi diri dari dampak kesehatan asap.

Siapkan Obat-obatan: Jika Anda memiliki riwayat asma atau gangguan pernapasan, pastikan membawa obat-obatan pribadi yang diperlukan.

Pantau Kualitas Udara: Gunakan aplikasi pemantau kualitas udara untuk mengetahui tingkat bahaya di lokasi Anda berada.

Kesimpulan

Kabut asap akibat karhutla di Bandara Supadio bukan sekadar gangguan cuaca biasa, melainkan ancaman nyata terhadap aspek keselamatan penerbangan, kelancaran ekonomi, dan kesehatan masyarakat. Penurunan visibilitas yang drastis memaksa adanya penyesuaian operasional yang berdampak pada keterlambatan dan pembatalan penerbangan. Penanganan yang terintegrasi antara pemadaman api di lahan, pemantauan navigasi udara yang ketat, serta kewaspadaan kesehatan dari masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi krisis asap ini. Diperlukan kerja sama lintas sektor agar dampak karhutla tidak terus berulang dan semakin merugikan banyak pihak di masa mendatang.

Menampilkan Seluruh Artikel