DWJ Manajement - PORTAL

Kemarau dan El Nino Tekan Pasokan Listrik Sulbagsel, Kapasitas Turun 650 MW

Oleh: DWJ-Manajement • 29 Sep 2026
Kemarau dan El Nino Tekan Pasokan Listrik Sulbagsel, Kapasitas Turun 650 MW

Penghematan Energi: Mengimbau masyarakat dan sektor industri untuk melakukan penghematan penggunaan listrik selama masa puncak kemarau.

Tantangan Transisi Energi di Tengah Perubahan Iklim

Krisis yang terjadi di Sulbagsel ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah dan pemangku kepentingan mengenai pentingnya diversifikasi energi. Meskipun energi terbarukan berbasis air (hydropower) sangat ramah lingkungan, ketergantungannya pada faktor alam menjadikannya berisiko tinggi jika tidak dibarengi dengan sumber energi terbarukan lainnya yang lebih stabil.

Pemerintah perlu mempercepat pengembangan energi terbarukan yang tidak terlalu bergantung pada siklus air, seperti tenaga surya (PLTS) atau tenaga angin (PLTB), guna menciptakan bauran energi yang lebih tangguh (resilient) terhadap perubahan iklim global. Integrasi antara berbagai jenis energi ini akan membantu menjaga stabilitas pasokan saat salah satu sumber mengalami kendala produksi.

Langkah Strategis ke Depan

Ke depan, manajemen sumber daya air dan manajemen energi harus berjalan beriringan. Pembangunan bendungan tidak hanya harus difokuskan pada fungsi irigasi dan penyediaan air baku, tetapi juga harus memperhitungkan perhitungan ketahanan energi jangka panjang dalam menghadapi skenario perubahan iklim yang ekstrem.

Selain itu, investasi pada teknologi penyimpanan energi (energy storage system) seperti baterai skala besar menjadi sangat krusial. Teknologi ini memungkinkan energi yang dihasilkan pada saat debit air tinggi disimpan dan digunakan saat kondisi kemarau, sehingga fluktuasi pasokan dapat diminimalisir.

Kesimpulan

Fenomena El Nino telah memberikan dampak nyata terhadap ketahanan energi di wilayah Sulbagsel melalui penurunan kapasitas pembangkit sebesar 650 MW akibat menyusutnya debit air PLTA. Kondisi ini menuntut langkah mitigasi cepat melalui optimalisasi pembangkit cadangan dan manajemen beban yang ketat untuk menghindari pemadaman luas. Lebih jauh lagi, krisis ini menjadi momentum penting bagi percepatan diversifikasi energi dan investasi pada teknologi penyimpanan energi guna menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang.