Optimalisasi Lahan: Program perluasan lahan produktif dan pemanfaatan lahan tidur secara efektif melalui kebijakan yang berpihak pada sektor agraria.
Perbaikan Infrastruktur Irigasi: Pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi di berbagai daerah memastikan ketersediaan air yang stabil bagi lahan pertanian, terutama saat musim kemarau.
Distribusi Pupuk dan Benih: Perbaikan rantai pasok sarana produksi pertanian (saprotan) yang menjamin petani mendapatkan pupuk dan benih unggul tepat waktu dan tepat sasaran.
Dukungan Kebijakan Pemerintah: Regulasi yang fokus pada perlindungan petani dan insentif bagi sektor pangan telah menciptakan iklim usaha tani yang lebih kondusif.
Peran Strategis Daerah dalam Mendukung Swasembada
Sebagai Ketua DPD RI, Sultan juga menyoroti pentingnya peran pemerintah daerah dalam menyukseskan agenda swasembada pangan ini. Ia menilai bahwa keberhasilan di tingkat nasional sangat bergantung pada bagaimana setiap provinsi dan kabupaten/kota mampu mengelola potensi sumber daya alamnya secara optimal.
DPD RI berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan pusat agar selaras dengan kebutuhan riil di daerah. Menurutnya, setiap daerah memiliki karakteristik lahan dan komoditas unggulan yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan yang bersifat "one size fits all" tidak akan efektif dalam membangun ketahanan pangan nasional.
Sultan mendorong pemerintah daerah untuk lebih proaktif dalam memberikan pembinaan kepada kelompok tani dan memastikan bahwa infrastruktur pendukung pertanian di tingkat desa tetap terjaga. Kemandirian pangan harus dimulai dari kemandirian di tingkat lokal, yang kemudian akan berkontribusi pada ketahanan nasional.
Tantangan yang Masih Harus Dihadapi
Meski menyatakan bahwa swasembada kini menjadi kenyataan, Sultan tetap mengingatkan agar seluruh pihak tidak cepat berpuas diri. Masih terdapat sejumlah tantangan krusial yang harus terus diantisipasi agar pencapaian ini bersifat berkelanjutan (sustainable) dan tidak hanya bersifat sementara.
Beberapa tantangan tersebut meliputi: