Ketahanan Nasional: Bangsa yang kuat bermula dari penduduk yang sehat secara fisik dan mental, yang merupakan aset utama pertahanan dan pembangunan.
Peningkatan Daya Saing: Generasi yang cerdas dan sehat akan lebih siap bersaing di level global, terutama dalam menghadapi era digital dan otomatisasi.
Dampak Buruk Kekurangan Gizi terhadap Pendidikan
Lebih lanjut, Muzani menyoroti bahwa masalah gizi memiliki korelasi langsung dengan tingkat prestasi akademik. Anak yang mengalami defisit nutrisi cenderung memiliki energi yang rendah, mudah mengantuk, dan sulit fokus. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan penurunan kualitas pendidikan nasional secara agregat karena potensi intelektual siswa tidak tergali secara maksimal akibat kendala fisik.
“Kita tidak bisa berharap melahirkan inovator, ilmuwan, atau pemimpin dunia jika di bangku sekolah mereka masih berjuang melawan rasa lapar. Makan Bergizi Gratis adalah jawaban untuk memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarganya, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan cerdas,” ujar Muzani.
MBG sebagai Instrumen Pengurangan Kesenjangan Sosial
Selain aspek kesehatan dan pendidikan, program Makan Bergizi Gratis juga dipandang sebagai instrumen penting dalam mengurangi kesenjangan sosial di Indonesia. Dengan adanya intervensi negara melalui penyediaan makanan bergizi di sekolah, beban ekonomi keluarga kurang mampu dapat sedikit terangkat.
Program ini diharapkan dapat menjadi jaring pengaman sosial yang efektif. Ketika negara mengambil peran dalam memastikan pemenuhan gizi anak, orang tua dapat mengalokasikan pendapatan mereka untuk kebutuhan mendesak lainnya, seperti biaya kesehatan atau kebutuhan pendidikan lainnya yang tidak tercover oleh makan siang.
Namun, Muzani juga memberikan catatan penting terkait implementasi program ini. Ia menekankan bahwa keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari seberapa banyak makanan yang dibagikan, tetapi juga dari aspek kualitas nutrisi dan ketepatan sasaran. Ia mendorong pemerintah untuk: