Keberhasilan Salim dalam melakukan integrasi vertikal—di mana satu perusahaan menyediakan bahan baku untuk perusahaan lainnya dalam grup yang sama—menciptakan efisiensi luar biasa yang sulit ditandingi oleh kompetitor manapun pada masa itu. Hal inilah yang membuat Salim Group menjadi simbol kemakmuran ekonomi Indonesia di mata dunia internasional selama dekade 1980-an hingga awal 1990-an.
Hubungan Simbiotik dengan Kekuasaan
Penting untuk dicatat bahwa pertumbuhan eksponensial Salim Group juga merupakan produk dari sistem ekonomi yang bersifat sentralistik. Di satu sisi, hal ini memberikan kepastian bagi investor mengenai keberlangsungan bisnis jangka panjang. Di sisi lain, hal ini menciptakan ketergantungan yang sangat tinggi antara stabilitas bisnis dengan stabilitas rezim politik yang berkuasa. Ketika rezim tersebut mulai goyah, maka seluruh struktur ekonomi yang menopangnya ikut terancam runtuh.
Prahara 1998: Titik Terendah Sang Raja Bisnis
Badai besar itu akhirnya datang pada pertengahan tahun 1997 hingga 1998. Krisis finansial Asia yang bermula dari jatuhnya nilai baht Thailand dengan cepat merambat ke Indonesia, memicu depresiasi rupiah yang sangat tajam. Bagi konglomerat seperti Sudono Salim, krisis ini bukan hanya masalah nilai tukar, melainkan masalah eksistensial. Sebagian besar utang luar negeri Salim Group dalam denominasi dolar AS membengkak berkali-kali lipat dalam hitungan bulan.
Situasi semakin memburuk ketika kerusuhan Mei 1998 pecah. Sentimen publik yang meningkat terhadap kelompok ekonomi tertentu, yang dianggap terlalu dekat dengan kekuasaan, menjadikan Salim Group sebagai salah satu target kemarahan massa. Toko-toko, pabrik, dan properti yang terkait dengan grup ini mengalami kerusakan, dan yang paling fatal adalah hilangnya kepercayaan dari sektor perbankan dan lembaga keuangan internasional.
Kejatuhan ini membawa beberapa dampak yang sangat masif bagi keluarga Salim:
Pertama, tekanan dari pemerintah dan lembaga internasional seperti IMF memaksa Salim Group untuk melakukan divestasi besar-besaran. Salah satu aset paling berharga, yaitu BCA, harus dilepaskan untuk menutupi kewajiban utang yang sangat besar. Kedua, terjadinya restrukturisasi utang yang sangat panjang dan menyakitkan, yang memaksa perusahaan-perusahaan di bawah naungannya untuk melakukan efisiensi ekstrem atau bahkan likuidasi.
Efek Domino bagi Ekonomi Nasional
Runtuhnya dominasi Salim Group tidak hanya berdampak pada keluarga Salim, tetapi juga memberikan efek domino terhadap ekonomi nasional. Sebagai salah satu pemberi kerja terbesar dan penggerak sektor konsumsi, guncangan pada Salim Group memicu ketidakpastian di pasar modal dan memperlambat pemulihan ekonomi pasca-krisis. Hal ini menunjukkan betapa besarnya konsentrasi kekayaan dan kekuatan ekonomi pada segelintir kelompok konglomerasi di Indonesia.
Strategi Reorganisasi: Berjuang di Tengah Puing-Puing
Setelah dihantam badai yang hampir memusnahkan segalanya, Sudono Salim dan penerusnya tidak memilih untuk menyerah. Alih-alih membiarkan imperium mereka hancur total, keluarga Salim melakukan langkah-langkah strategis yang sangat hati-hati dan terukur untuk melakukan rehabilitasi bisnis.
Langkah pertama yang diambil adalah melakukan pemisahan aset dan restrukturisasi utang secara menyeluruh. Mereka mulai fokus pada unit-unit bisnis yang memiliki fundamental kuat dan mampu menghasilkan arus kas secara mandiri, tanpa bergantung pada keterkaitan politik yang kuat seperti di masa lalu. Fokus utama dialihkan pada sektor-sektor yang bersifat "defensif", yaitu sektor yang tetap dibutuhkan masyarakat dalam kondisi ekonomi sesulit apapun.