Disinformasi atau informasi salah yang sengaja dibuat untuk menipu publik sering kali muncul dalam bentuk video pendek yang telah dipotong (decontextualized) atau foto-foto lama yang diberi narasi baru yang menyesatkan. Dalam situasi aksi demonstrasi, hal ini sangat berbahaya karena dapat memicu reaksi instan dari masyarakat sebelum mereka sempat melakukan verifikasi.
Komdigi mengingatkan bahwa satu unggahan provokatif dapat menyebar ke jutaan orang dalam hitungan menit. Jika narasi yang disebarkan mengandung unsur kebencian terhadap kelompok, suku, agama, atau instansi tertentu, dampaknya bisa sangat destruktif terhadap kerukunan sosial.
Provokasi Digital yang Memicu Aksi Anarkis
Selain hoaks, provokasi yang bertujuan menggerakkan massa untuk melakukan tindakan melanggar hukum juga menjadi perhatian serius. Narasi yang membakar semangat dengan cara-cara yang tidak sehat dapat mengaburkan tujuan utama dari sebuah aksi penyampaian pendapat, yang seharusnya dilakukan secara damai dan konstitusional.
Panduan bagi Masyarakat untuk Tetap Bijak
Agar masyarakat tidak terjebak dalam arus informasi yang merusak, Komdigi memberikan beberapa panduan praktis dalam menggunakan media sosial selama periode aksi 27 Agustus ini. Literasi digital menjadi kunci utama agar setiap individu mampu membedakan mana fakta dan mana opini yang bersifat menyesatkan.
Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh masyarakat:
Saring Sebelum Sharing: Jangan terburu-buru menyebarkan informasi yang baru saja diterima, terutama jika judulnya sangat bombastis atau bersifat emosional.
Verifikasi Sumber Informasi: Pastikan berita yang Anda baca berasal dari media massa resmi yang terverifikasi dan memiliki kredibilitas tinggi.
Cek Fakta Secara Mandiri: Gunakan platform pengecek fakta (fact-checking) untuk memastikan kebenaran sebuah foto, video, atau pernyataan yang sedang viral.