DWJ Manajement - PORTAL

Komdigi Bicara RUU Hak Cipta Usai Google dan Motion Picture Menghadap

Oleh: DWJ-Manajement 30 Jul 2026
Komdigi Bicara RUU Hak Cipta Usai Google dan Motion Picture Menghadap

Adaptasi Teknologi AI: Mengatur bagaimana algoritma dan model bahasa besar dapat menggunakan data atau karya yang dilindungi tanpa melanggar hak pencipta.

Kepastian Hukum bagi Platform: Memberikan panduan yang jelas bagi penyedia layanan digital mengenai tanggung jawab mereka terhadap konten yang diunggah pengguna.

Globalisasi Konten: Menyelaraskan regulasi domestik dengan standar hak cipta internasional agar karya anak bangsa dapat terlindungi secara global.

Dilema Antara Inovasi Teknologi dan Perlindungan Karya

Pertemuan dengan Google membawa perspektif yang berbeda dibandingkan dengan industri motion picture. Sebagai penyedia mesin pencari dan platform layanan digital terbesar di dunia, Google memiliki peran sebagai jembatan informasi. Namun, model bisnis yang berbasis pada pengindeksan data seringkali bersinggungan dengan hak eksklusif pemilik konten.

Dari satu sisi, industri film menuntut perlindungan yang sangat ketat terhadap setiap frame gambar dan suara yang mereka produksi. Mereka melihat bahwa distribusi digital yang tidak teregulasi dengan baik dapat memicu kebocoran konten yang merugikan pendapatan studio secara masif. Bagi mereka, hak cipta adalah fondasi utama dari keberlanjutan industri kreatif.

Di sisi lain, para pelaku industri teknologi menekankan pentingnya konsep fair use atau penggunaan yang wajar. Mereka berargumen bahwa jika aturan hak cipta diterapkan secara terlalu kaku, maka fungsi internet sebagai ruang pencarian informasi dan alat pembelajaran bisa terganggu. Inovasi seperti mesin pencari, fitur cuplikan video, hingga pengembangan AI memerlukan fleksibilitas dalam mengakses data agar tetap dapat berfungsi secara optimal.

Menemukan Titik Temu: Visi Komdigi

Menanggapi perbedaan kepentingan tersebut, Komdigi menegaskan posisinya sebagai mediator. Pemerintah tidak ingin mematikan kreativitas dengan aturan yang kaku, namun juga tidak ingin membiarkan eksploitasi karya terjadi tanpa imbalan yang adil.

Strategi yang tengah dirancang dalam RUU Hak Cipta ini mencakup beberapa pendekatan moderat: