DWJ Manajement - PORTAL

Kredit Nganggur di Bank Tembus Rp 2.575 T

Oleh: DWJ-Manajement 25 Jul 2026
Kredit Nganggur di Bank Tembus Rp 2.575 T

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar, perbankan cenderung mengambil posisi yang sangat konservatif. Bank memperketat standar penilaian kredit (credit scoring) untuk meminimalisir risiko kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) di masa depan. Akibatnya, banyak pengajuan kredit yang sudah masuk dalam plafon perencanaan, namun tertahan karena proses verifikasi yang sangat ketat dan lama.

2. Tingginya Suku Bunga Acuan

Kebijakan suku bunga tinggi yang diterapkan untuk menjaga stabilitas moneter berdampak langsung pada biaya pinjaman. Suku bunga kredit yang mahal membuat para pelaku usaha berpikir dua kali untuk mengambil pinjaman baru. Banyak korporasi yang memilih untuk menunda ekspansi bisnis dan lebih memilih menggunakan dana internal atau menunda belanja modal (capex) guna menghindari beban bunga yang tinggi.

3. Penurunan Daya Serap Sektor Riil

Dari sisi permintaan, pelaku usaha di berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga konstruksi, menunjukkan gejala kehati-hatian yang tinggi. Ketidakpastian daya beli masyarakat dan tantangan pasar ekspor membuat banyak perusahaan menunda proyek-proyek besar yang membutuhkan pendanaan bank. Inilah yang menyebabkan dana yang sudah disiapkan bank akhirnya hanya "menganggur" di buku komitmen mereka.

Dampak Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Penumpukan kredit menganggur dalam skala triliunan rupiah memiliki implikasi sistemik terhadap pertumbuhan ekonomi makro. Ekonomi sebuah negara sangat bergantung pada kecepatan sirkulasi uang. Ketika kredit tidak mengalir ke sektor riil, maka pertumbuhan investasi akan melambat.

Berikut adalah beberapa dampak domino yang mungkin terjadi:

Melambatnya Ekspansi Bisnis: Tanpa suntikan modal dari kredit, perusahaan akan kesulitan melakukan ekspansi, membeli mesin baru, atau menambah kapasitas produksi.

Penurunan Penyerapan Tenaga Kerja: Melambatnya ekspansi bisnis secara otomatis akan menghambat penciptaan lapangan kerja baru, yang pada gilirannya dapat menekan angka konsumsi rumah tangga.