DWJ Manajement - PORTAL

Mahasiswa Curhat Beras di Alor Tembus Rp 30.000/Kg, Mentan Turun Tangan

Oleh: DWJ-Manajement 08 Aug 2026
Mahasiswa Curhat Beras di Alor Tembus Rp 30.000/Kg, Mentan Turun Tangan

Langkah Strategis Pemerintah dalam Stabilisasi Harga

Untuk mengatasi permasalahan ini, Kementerian Pertanian bersama dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Bulog terus mengupayakan langkah-langkah konkret. Pemerintah tidak ingin keluhan mahasiswa di Alor menjadi preseden buruk bagi stabilitas pangan di daerah lain.

Beberapa langkah yang sedang dan akan terus dijalankan meliputi:

Operasi Pasar Terpadu: Melakukan intervensi langsung di pasar-pasar daerah yang mengalami lonjakan harga dengan menggelar operasi pasar murah menggunakan stok beras Bulog.

Penguatan Distribusi ke Wilayah 3T: Memastikan jalur logistik ke wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) mendapatkan prioritas dan dukungan subsidi angkut jika diperlukan.

Digitalisasi Pemantauan Harga: Menggunakan sistem pemantauan harga berbasis real-time untuk mendeteksi secara dini adanya anomali harga di tingkat pedagang eceran.

Koordinasi Lintas Sektoral: Memperkuat kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota untuk memastikan koordinasi distribusi berjalan sinkron.

Mentan Amran juga meminta para kepala daerah untuk tidak tinggal diam melihat harga pangan melonjak di wilayahnya. Kepala daerah diharapkan mampu melakukan pemantauan langsung dan mengambil langkah cepat sebelum keluhan masyarakat meluas.

Kesimpulan

Lonjakan harga beras di Alor hingga mencapai Rp 30.000 per kg merupakan alarm penting bagi efektivitas distribusi pangan di wilayah Indonesia Timur. Meskipun Menteri Pertanian Amran Sulaiman telah menjamin bahwa stok beras nasional sangat aman dan harga seharusnya dapat ditekan hingga setara dengan harga di Jakarta, namun realita di lapangan menunjukkan adanya hambatan dalam rantai pasok.

Pemerintah perlu memastikan bahwa jaminan "stok aman" tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di daerah, bukan hanya angka di atas kertas. Pengawasan ketat terhadap rantai distribusi dan optimalisasi logistik menjadi kunci utama agar tidak ada lagi mahasiswa maupun warga di pelosok negeri yang harus kesulitan memenuhi kebutuhan pokok mereka akibat harga pangan yang tidak terkendali.