DWJ Manajement - PORTAL

Mengais Rezeki dari Cacing Sutra di Tengah Lumpur BKB

Oleh: DWJ-Manajement 18 Sep 2026
Mengais Rezeki dari Cacing Sutra di Tengah Lumpur BKB

Mengais Rezeki di Balik Lumpur BKB: Perjuangan Warga Jakarta Mencari Cacing Sutra demi Bertahan Hidup

Di balik hiruk-pikuk kemegahan gedung pencakar langit Jakarta, terdapat sisi lain kehidupan yang bergerak pelan di tepian aliran air. Di sepanjang bantaran Banjir Kanal Barat (BKB), pemandangan tak biasa kerap terlihat; tangan-tangan tangguh yang tak gentar bergelut dengan lumpur hitam demi mencari butiran rezeki yang tersembunyi di dalamnya.

Jakarta tidak pernah tidur, namun bagi sebagian orang, denyut nadi ekonomi tidak ditemukan di dalam gedung berpendingin udara atau pusat perbelanjaan mewah. Sebaliknya, bagi para pengais cacing sutra, denyut itu terasa di antara aroma lumpur yang menyengat dan panasnya matahari yang membakar kulit di pinggiran Banjir Kanal Barat (BKB). Mereka adalah sosok-sosok yang hidup dari mencari cacing sutra, sebuah organisme kecil yang bagi sebagian orang mungkin terlihat menjijikkan, namun bagi para penghobi ikan hias, ia adalah emas hidup.

Menjemput Asa di Antara Lumpur dan Bau Tak Sedap

Kegiatan mencari cacing sutra di BKB bukanlah pekerjaan sembarangan. Ini adalah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran ekstra, ketelitian, dan ketahanan fisik yang kuat. Setiap pagi, sebelum terik matahari mencapai puncaknya, para pencari ini sudah bersiaga di pinggiran kanal. Dengan perlengkapan sederhana—seringkali hanya berupa saringan kecil, wadah plastik, dan terkadang sepatu bot karet—mereka mulai menyisir area lumpur yang dianggap potensial.

Lumpur di BKB bukanlah lumpur biasa. Ia merupakan endapan sisa-sisa organik yang telah lama mengendap, menciptakan ekosistem unik bagi pertumbuhan cacing sutra atau yang secara ilmiah dikenal sebagai Tubifex. Para pencari ini harus memahami karakteristik aliran air dan kedalaman lumpur untuk menemukan konsentrasi cacing yang tinggi. Mereka tidak bisa sekadar mengeruk; mereka harus menyaring dengan teknik tertentu agar cacing yang didapat dalam kondisi hidup dan segar.

Proses ini seringkali memakan waktu berjam-jam. Mata mereka harus jeli melihat pergerakan halus di permukaan lumpur, sebuah tanda bahwa di bawah sana terdapat koloni cacing yang sedang berkerumun. Meski bau busuk dari limbah dan endapan organik seringkali menusuk hidung, para pekerja ini seolah sudah kebal. Bagi mereka, aroma tersebut adalah aroma kerja keras yang harus dihadapi demi sesuap nasi.

Cacing Sutra: Komoditas Kecil dengan Nilai Ekonomi Tinggi

Mengapa cacing yang hidup di dalam lumpur kotor ini begitu berharga? Jawabannya terletak pada industri ikan hias yang terus berkembang pesat di Indonesia. Cacing sutra merupakan salah satu pakan alami terbaik bagi larva atau bibit ikan hias. Kandungan proteinnya yang sangat tinggi menjadikannya nutrisi esensial yang sulit digantikan oleh pakan buatan dalam fase pertumbuhan awal ikan.

Permintaan pasar terhadap cacing sutra sangatlah stabil. Mulai dari pedagang ikan hias di pasar-pasar tradisional hingga peternak ikan skala besar di pinggiran kota, semuanya membutuhkan pasokan rutin. Hal inilah yang membuat profesi mengais lumpur di BKB tetap eksis meskipun tantangan lingkungannya begitu berat.