Penyakit kulit seperti gatal-gatal, iritasi, hingga infeksi jamur adalah makanan sehari-hari bagi mereka. Tidak jarang pula, mereka terpapar risiko penyakit yang ditularkan melalui air (waterborne diseases) seperti leptospirosis atau gangguan pencernaan akibat bakteri berbahaya yang hidup di air yang tercemar. Minimnya penggunaan alat pelindung diri yang memadai—seperti sarung tangan medis atau pakaian kedap air yang standar—memperbesar risiko ini.
Selain faktor kesehatan, tantangan lingkungan juga menjadi kendala utama. Perubahan cuaca yang ekstrem dan kebijakan pemerintah terkait normalisasi sungai seringkali mengubah lanskap BKB. Ketika musim hujan tiba dengan intensitas tinggi, debit air yang meningkat dan banjir dapat menghentikan aktivitas pencarian mereka secara total. Di sisi lain, upaya pembersihan kanal oleh pemerintah terkadang juga merusak habitat alami cacing sutra yang selama ini menjadi sumber penghasilan mereka.
Sisi Lain Ekonomi Informal Jakarta
Fenomena para pengais cacing sutra di BKB adalah potret nyata dari ekonomi informal yang menjadi tulang punggung bagi banyak keluarga di Jakarta. Mereka bekerja di celah-celah sistem kota yang besar, memanfaatkan sisa-sisa lingkungan untuk menciptakan nilai ekonomi. Ini adalah bentuk resiliensi atau daya tahan masyarakat kelas bawah dalam menghadapi tekanan ekonomi yang kian berat.
Keberadaan mereka menunjukkan bahwa setiap sudut kota, bahkan yang dianggap kotor dan tak berharga sekalipun, tetap menyimpan potensi ekonomi jika dikelola dengan cara tertentu. Namun, di sisi lain, hal ini juga menjadi refleksi bagi pemerintah dan pemangku kebijakan mengenai pentingnya penyediaan lapangan kerja yang layak dan perlindungan bagi pekerja informal yang bekerja di lingkungan berisiko tinggi.
Para pengais ini tidak memiliki jaminan kesehatan, tidak memiliki upah minimum, dan tidak memiliki kepastian hari esok. Mereka hanya mengandalkan kekuatan fisik dan keberuntungan di atas lumpur. Setiap kilo cacing yang mereka bawa pulang bukan sekadar pakan ikan, melainkan simbol perjuangan untuk tetap bertahan di tengah kerasnya rimba beton Jakarta.
Kesimpulan
Mengais rezeki dari cacing sutra di tengah lumpur Banjir Kanal Barat adalah sebuah realitas pahit sekaligus inspiratif. Di satu sisi, ini adalah bukti nyata dari kreativitas dan kegigihan manusia dalam memanfaatkan peluang ekonomi sekecil apa pun. Di sisi lain, kondisi ini menyoroti masalah kesehatan lingkungan dan kerentanan ekonomi masyarakat marginal di Jakarta.
Meskipun permintaan pasar terhadap cacing sutra tetap tinggi untuk menopang industri ikan hias, kesejahteraan dan keselamatan para pekerja ini tetap menjadi pertanyaan besar. Diperlukan perhatian yang lebih dari berbagai pihak, baik dalam hal pembersihan lingkungan yang lebih terkontrol maupun perlindungan kesehatan bagi mereka yang menggantungkan hidup dari ekosistem yang rentan ini.