Bandara di Wilayah Banten: Mengalami pembatasan operasional akibat arah angin yang membawa abu ke arah barat.
Bandara di Wilayah Lampung: Mengalami penutupan karena jarak yang sangat dekat dengan sumber erupsi.
Bandara di Wilayah Sumatera Selatan: Mengalami gangguan visibilitas akibat sebaran abu yang meluas.
Bandara di Wilayah Sekitarnya: Mengikuti protokol keselamatan sesuai dengan peta sebaran vulkanik terbaru.
Dampak Masif Terhadap Penumpang dan Maskapai Penerbangan
Penutupan bandara ini telah menciptakan gelombang pembatalan penerbangan yang luas. Ribuan penumpang kini terjebak dalam ketidakpastian, baik di terminal keberangkatan maupun di bandara asal. Maskapai penerbangan pun dipaksa melakukan manuver darurat untuk mengatur ulang jadwal atau melakukan rerouting (pengalihan rute) ke bandara alternatif.
Pihak maskapai mengaku terus berupaya memberikan informasi terkini kepada para penumpang. Namun, karena sifat erupsi yang tidak terprediksi, estimasi waktu pembukaan kembali bandara sangat sulit dipastikan secara akurat. Hal ini menyebabkan penumpukan penumpang di area tunggu bandara.
Beberapa kendala utama yang dihadapi oleh industri penerbangan saat ini meliputi:
Logistik dan Kargo: Distribusi barang melalui jalur udara mengalami hambatan serius, yang berpotensi mengganggu rantai pasok nasional.
Biaya Operasional: Maskapai harus menanggung biaya tambahan untuk pengalihan rute dan penyediaan akomodasi bagi penumpang yang tertahan.
Ketidakpastian Jadwal: Perubahan jadwal yang terjadi secara mendadak menyulitkan penumpang dalam melakukan perencanaan perjalanan.