Penilaian Risiko yang Lebih Humanis: BPD dapat menggunakan pendekatan kualitatif, seperti memahami reputasi pelaku usaha di komunitasnya, untuk melengkapi data formal yang mungkin tidak lengkap.
Edukasi Keuangan yang Relevan: Melalui kedekatan dengan komunitas, BPD dapat memberikan pendampingan dan literasi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan spesifik petani, nelayan, atau pengrajin lokal.
Membangun Loyalitas Nasabah: Dengan menjadi bagian dari solusi masalah lokal, BPD akan membangun kepercayaan (trust) yang lebih kuat, yang merupakan fondasi utama dalam industri perbankan.
Dengan menjadi community bank, BPD tidak lagi dipandang sebagai lembaga yang asing atau sulit ditembus, melainkan sebagai mitra tumbuh kembang bersama masyarakat daerah.
Membangun Ekosistem UMKM yang Terintegrasi
Selain pendekatan komunitas, OJK juga mendorong BPD untuk mulai mengadopsi strategi pengembangan ekosistem. Dalam dunia bisnis modern, pelaku UMKM tidak berdiri sendiri; mereka adalah bagian dari rantai pasok (supply chain) yang lebih besar.
Strategi ekosistem berarti BPD masuk ke dalam seluruh siklus bisnis dari hulu ke hilir. Sebagai contoh, jika sebuah daerah memiliki potensi industri pengolahan kopi, BPD tidak hanya memberikan kredit kepada petani kopi (hulu), tetapi juga kepada penyedia alat pertanian, pengolah biji kopi, hingga distributor dan ritel (hilir).
Integrasi Rantai Pasok (Supply Chain Financing)
Melalui integrasi rantai pasok, risiko kredit dapat diminimalisir. BPD dapat memberikan pembiayaan kepada pelaku usaha berdasarkan kontrak kerja atau hubungan dagang yang sudah terjalin dalam ekosistem tersebut. Hal ini memberikan kepastian bahwa dana yang disalurkan akan digunakan untuk kegiatan produktif yang memiliki aliran kas jelas.
Beberapa langkah yang dapat diambil BPD dalam membangun ekosistem ini meliputi: