3. Biaya Logistik dan Bahan Baku
Ketergantungan pada bahan baku tertentu yang masih harus diimpor serta tingginya biaya logistik domestik turut menekan margin keuntungan para pengusaha. Hal ini membuat harga pokok produksi (HPP) produk tekstil dalam negeri menjadi kurang kompetitif dibandingkan produk impor yang sudah masuk ke pasar melalui jalur perdagangan yang lebih efisien.
Dukungan Perbankan BUMN: Kunci Revitalisasi Industri
Menyikapi masalah permodalan tersebut, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan instruksi khusus kepada jajaran perbankan milik negara. Pemerintah meminta Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Himbara untuk memberikan dukungan nyata melalui penyediaan modal yang lebih mudah dan terjangkau bagi para pelaku industri tekstil.
Dukungan perbankan ini diharapkan tidak hanya bersifat jangka pendek untuk menjaga arus kas (cash flow), tetapi juga bersifat jangka panjang untuk mendukung belanja modal (capital expenditure). Fokus utama dari dukungan modal ini adalah untuk revitalisasi mesin-mesin produksi yang sudah tua agar lebih hemat energi dan memiliki presisi tinggi.
Berikut adalah beberapa poin penting terkait dukungan modal yang diharapkan dari Bank BUMN:
Skema Kredit Revitalisasi: Penyediaan fasilitas kredit dengan bunga yang kompetitif khusus untuk pembelian mesin-mesin tekstil modern.
Kemudahan Akses bagi UMKM Tekstil: Mempermudah persyaratan kredit bagi pemain lokal skala kecil dan menengah agar mereka bisa naik kelas.
Pendampingan Finansial: Perbankan diharapkan tidak hanya memberikan pinjaman, tetapi juga memberikan edukasi manajemen keuangan agar perusahaan dapat mengelola modal dengan efektif.
Restrukturisasi Kredit: Memberikan ruang bagi perusahaan yang sedang terdampak krisis untuk melakukan penataan ulang kewajiban keuangan agar tetap bisa beroperasi.
Airlangga menegaskan bahwa sinergi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter/kredit dari perbankan BUMN sangat krusial. Tanpa adanya aliran modal yang lancar, visi Presiden untuk mengubah industri tekstil menjadi industri yang modern tidak akan pernah tercapai.