DWJ Manajement - PORTAL

Pemerintah Sebut Tekstil Bukan Sunset Industry, Minta Bank BUMN Dukung Modal

Oleh: DWJ-Manajement 22 Sep 2026
Pemerintah Sebut Tekstil Bukan Sunset Industry, Minta Bank BUMN Dukung Modal

Strategi Presiden Prabowo Selamatkan Industri Tekstil: Bukan Sunset Industry, Bank BUMN Diminta Kucurkan Modal

Jakarta - Kondisi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia tengah berada dalam sorotan tajam. Di tengah gempuran produk impor dan ketidakpastian ekonomi global, muncul kekhawatiran bahwa sektor ini telah memasuki fase sunset industry atau industri yang mulai meredup dan kehilangan daya saingnya. Namun, pemerintah melalui Presiden Prabowo Subianto memberikan pernyataan tegas yang menepis anggapan tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo menegaskan industri tekstil bukan merupakan industri yang akan mati. Sebaliknya, pemerintah melihat potensi besar untuk merevitalisasi sektor ini agar kembali menjadi tulang punggung ekonomi nasional, terutama dalam penyediaan lapangan kerja dan penyumbang devisa negara.

Pernyataan Tegas Presiden: Tekstil Bukan Sunset Industry

Dalam berbagai kesempatan, Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pandangan Presiden Prabowo Subianto terhadap sektor tekstil sangat optimis. Meskipun tantangan yang dihadapi sangat berat, pemerintah tidak melihat sektor ini sebagai industri yang tidak memiliki masa depan. Sebaliknya, pemerintah melihat adanya kebutuhan mendesak untuk melakukan modernisasi dan penguatan struktur industri dari hulu ke hilir.

Menurut Airlangga, label sunset industry sering kali disematkan pada sektor yang gagal beradaptasi dengan teknologi dan perubahan pasar. Namun, pemerintah meyakini bahwa dengan intervensi kebijakan yang tepat, industri tekstil Indonesia dapat bertransformasi menjadi industri yang lebih efisien, modern, dan kompetitif di kancah global. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak akan membiarkan sektor ini tumbang begitu saja oleh arus globalisasi.

Presiden menekankan bahwa tekstil memiliki nilai strategis yang tidak bisa diremehkan. Sektor ini menyerap jutaan tenaga kerja di berbagai wilayah di Indonesia. Jika industri ini runtuh, dampak sosial-ekonominya akan sangat masif, mulai dari lonjakan angka pengangguran hingga penurunan daya beli masyarakat di sektor manufaktur.

Tantangan Berat: Gempuran Impor dan Masalah Permodalan

Meskipun optimisme dikedepankan, pemerintah tidak menutup mata terhadap realitas pahit yang sedang dialami para pelaku usaha tekstil tanah air. Industri TPT dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan hebat akibat beberapa faktor kunci yang saling berkaitan.

1. Serbuan Produk Impor Murah

Salah satu tantangan terbesar adalah membanjirnya produk tekstil impor, terutama dari negara-negara dengan biaya produksi yang jauh lebih rendah. Praktik dumping atau penjualan produk dengan harga di bawah nilai pasar sering kali membuat produk lokal kalah bersaing di pasar domestik sendiri. Hal ini menyebabkan banyak pabrik lokal mengalami penurunan kapasitas produksi hingga terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK).

2. Keterbatasan Akses Permodalan

Selain masalah pasar, masalah internal mengenai permodalan menjadi kendala klasik yang hingga kini masih menghantui. Banyak perusahaan tekstil, terutama yang berskala menengah, kesulitan mendapatkan akses kredit perbankan untuk melakukan modernisasi mesin. Padahal, untuk bersaing dengan produk luar negeri, efisiensi melalui penggunaan teknologi mesin terbaru adalah harga mati.

3. Biaya Logistik dan Bahan Baku

Ketergantungan pada bahan baku tertentu yang masih harus diimpor serta tingginya biaya logistik domestik turut menekan margin keuntungan para pengusaha. Hal ini membuat harga pokok produksi (HPP) produk tekstil dalam negeri menjadi kurang kompetitif dibandingkan produk impor yang sudah masuk ke pasar melalui jalur perdagangan yang lebih efisien.

Dukungan Perbankan BUMN: Kunci Revitalisasi Industri

Menyikapi masalah permodalan tersebut, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan instruksi khusus kepada jajaran perbankan milik negara. Pemerintah meminta Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Himbara untuk memberikan dukungan nyata melalui penyediaan modal yang lebih mudah dan terjangkau bagi para pelaku industri tekstil.

Dukungan perbankan ini diharapkan tidak hanya bersifat jangka pendek untuk menjaga arus kas (cash flow), tetapi juga bersifat jangka panjang untuk mendukung belanja modal (capital expenditure). Fokus utama dari dukungan modal ini adalah untuk revitalisasi mesin-mesin produksi yang sudah tua agar lebih hemat energi dan memiliki presisi tinggi.

Berikut adalah beberapa poin penting terkait dukungan modal yang diharapkan dari Bank BUMN:

Skema Kredit Revitalisasi: Penyediaan fasilitas kredit dengan bunga yang kompetitif khusus untuk pembelian mesin-mesin tekstil modern.

Kemudahan Akses bagi UMKM Tekstil: Mempermudah persyaratan kredit bagi pemain lokal skala kecil dan menengah agar mereka bisa naik kelas.

Pendampingan Finansial: Perbankan diharapkan tidak hanya memberikan pinjaman, tetapi juga memberikan edukasi manajemen keuangan agar perusahaan dapat mengelola modal dengan efektif.

Restrukturisasi Kredit: Memberikan ruang bagi perusahaan yang sedang terdampak krisis untuk melakukan penataan ulang kewajiban keuangan agar tetap bisa beroperasi.

Airlangga menegaskan bahwa sinergi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter/kredit dari perbankan BUMN sangat krusial. Tanpa adanya aliran modal yang lancar, visi Presiden untuk mengubah industri tekstil menjadi industri yang modern tidak akan pernah tercapai.

Langkah Strategis Pemerintah Menjaga Ketahanan Industri

Selain mendorong peran perbankan, pemerintah juga tengah menyiapkan berbagai instrumen kebijakan untuk melindungi industri tekstil dalam negeri. Langkah-langkah ini dirancang untuk menciptakan ekosistem industri yang sehat dan berkeadilan.

Beberapa langkah strategis yang tengah dan akan terus dijalankan antara lain:

Penguatan Instrumen Perdagangan: Penggunaan instrumen seperti Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) dan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) atau safeguard untuk membendung produk impor yang merusak harga pasar domestik.

Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN): Mendorong instansi pemerintah dan BUMN untuk mengutamakan penggunaan produk tekstil buatan dalam negeri dalam pengadaan barang dan jasa.

Pembangunan Kawasan Industri Terintegrasi: Mendorong terciptanya ekosistem industri dari hulu (serat) hingga hilir (pakaian jadi) dalam satu kawasan untuk menekan biaya logistik.

Insentif Pajak: Pemberian insentif fiskal bagi perusahaan yang melakukan investasi besar dalam pengembangan teknologi hijau (green industry) di sektor tekstil.

Pemerintah meyakini bahwa dengan kombinasi perlindungan pasar, kemudahan modal, dan modernisasi teknologi, industri tekstil Indonesia akan mampu bangkit kembali. Targetnya bukan sekadar bertahan hidup, melainkan menjadi pemain utama dalam rantai pasok tekstil dunia.

Kesimpulan

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto melalui Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan angin segar bagi industri tekstil nasional. Dengan menegaskan bahwa sektor ini bukan merupakan sunset industry, pemerintah memberikan komitmen politik yang kuat untuk melakukan penyelamatan dan revitalisasi secara menyeluruh.

Kunci keberhasilan transformasi ini terletak pada sinergi antara kebijakan perlindungan pasar oleh pemerintah dan dukungan pembiayaan dari Bank BUMN. Jika akses permodalan dapat dibuka lebar untuk modernisasi teknologi, industri tekstil Indonesia tidak hanya akan mampu bertahan dari gempuran impor, tetapi juga akan tumbuh menjadi industri yang modern, efisien, dan berdaya saing tinggi di pasar global, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi dan lapangan kerja nasional.

Menampilkan Seluruh Artikel