DWJ Manajement - PORTAL

Perlahan Asing Geser Haluan Lagi, Incar Saham Ini

Oleh: DWJ-Manajement 06 Aug 2026
Perlahan Asing Geser Haluan Lagi, Incar Saham Ini

Hedging terhadap Inflasi: Komoditas seringkali dianggap sebagai aset lindung nilai (hedging) yang efektif ketika risiko inflasi global masih membayangi.

Valuasi yang Menarik: Setelah mengalami tekanan jual sebelumnya, beberapa saham komoditas kini diperdagangkan pada level valuasi yang lebih terukur.

Fokus pada Aneka Tambang (ANTM) dan Timah (TINS)

Dari sekian banyak emiten di sektor mineral, dua nama besar mencuri perhatian pasar: PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Timah Tbk (TINS). Kedua saham ini tercatat mengalami aliran dana masuk atau net buy dari investor asing, sebuah kontras yang tajam dibandingkan tren net sell di saham lainnya.

1. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

ANTM tetap menjadi favorit karena posisi strategisnya dalam rantai pasok nikel dan emas. Sebagai pemain kunci dalam ekosistem baterai kendaraan listrik (EV), ANTM mendapatkan sentimen positif dari arah kebijakan transisi energi global. Investor asing melihat ANTM bukan sekadar perusahaan tambang konvensional, melainkan perusahaan yang memiliki prospek jangka panjang dalam mendukung ekonomi hijau.

2. PT Timah Tbk (TINS)

Sementara itu, TINS menunjukkan daya tarik melalui volatilitas harga timah global. Sebagai salah satu produsen timah terbesar di dunia, pergerakan harga timah di London Metal Exchange (LME) berdampak langsung pada margin keuntungan TINS. Masuknya aliran dana asing ke saham TINS mengindikasikan bahwa para investor mulai mengantisipasi perbaikan harga timah yang dapat mendongkrak kinerja keuangan emiten ini di kuartal mendatang.

Analisis Sentimen Global dan Dampaknya terhadap Pasar Domestik

Untuk memahami mengapa pergeseran ini terjadi, kita harus melihat gambaran besar ekonomi dunia. Kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, masih menjadi kompas utama bagi aliran modal global. Ketika pasar berekspektasi akan adanya pelonggaran kebijakan moneter, aset-aset berisiko seperti saham di negara berkembang mulai kembali diminati.

Namun, risiko tetap ada. Volatilitas nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS seringkali menjadi penghambat laju masuknya modal asing. Oleh karena itu, investor cenderung lebih selektif. Mereka tidak lagi membeli pasar secara keseluruhan, melainkan melakukan stock picking yang sangat presisi pada saham-saham yang memiliki fundamental kuat dan ketergantungan tinggi pada komoditas ekspor.