Penderita Penyakit Kronis: Mereka yang memiliki riwayat asma, bronkitis, atau penyakit jantung.
Pekerja Luar Ruangan: Petugas lapangan, pedagang kaki lima, dan pengemudi yang tidak memiliki perlindungan maksimal.
Gejala-gejala yang mulai sering dikeluhkan oleh warga meliputi batuk kering yang tak kunjung sembuh, sesak napas, tenggorokan gatal, hingga mata merah dan iritasi. Dalam kasus yang lebih berat, pasien membutuhkan bantuan oksigen tambahan untuk menjaga saturasi oksigen dalam darah tetap stabil.
Penyebab Utama: Karhutla dan Musim Kemarau yang Ekstrem
Meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya dipicu oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Musim kemarau yang panjang telah membuat lahan gambut di wilayah ini menjadi sangat kering dan sangat mudah terbakar. Lahan gambut memiliki karakteristik unik di mana api dapat merambat di bawah permukaan tanah, menjadikannya sangat sulit untuk dipadamkan secara konvensional.
Selain faktor cuaca, aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar juga disinyalir menjadi salah satu pemicu utama. Meskipun pemerintah telah mengeluarkan aturan ketat mengenai larangan membakar lahan, praktik ini terkadang masih ditemukan di lapangan. Begitu api muncul di lahan gambut, asap yang dihasilkan jauh lebih pekat dan bertahan lebih lama di udara dibandingkan kebakaran lahan mineral biasa.
Kondisi ini diperparah dengan minimnya curah hujan, sehingga upaya pemadaman melalui metode water bombing oleh helikopter seringkali terkendala oleh efektivitas air yang cepat menguap sebelum menyentuh titik api di bawah permukaan gambut.
Tantangan Logistik dan Distribusi Oksigen
Meningkatnya permintaan oksigen juga menghadirkan tantangan logistik tersendiri. Pengiriman tabung oksigen dari luar daerah ke Palangka Raya memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit, terutama jika kondisi jarak pandang yang rendah akibat kabut asap menghambat mobilitas kendaraan pengangkut. Hal ini menimbulkan risiko keterlambatan distribusi yang dapat berakibat fatal bagi pasien yang membutuhkan oksigen secara darurat.
Pihak penyedia oksigen kini tengah berupaya memperkuat stok cadangan, namun mereka sangat bergantung pada kelancaran distribusi dari pabrik pengolahan gas medis di pusat-pusat industri. Jika krisis ini berlanjut hingga beberapa minggu ke depan, manajemen stok menjadi kunci utama agar layanan kesehatan tidak lumpuh.
Langkah Mitigasi dan Saran bagi Masyarakat
Di tengah situasi yang tidak menentu ini, pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan dinas kesehatan terus mengimbau masyarakat untuk waspada. Langkah-langkah pencegahan harus dilakukan secara kolektif untuk meminimalisir dampak kesehatan yang lebih luas.