DWJ Manajement - PORTAL

Pertamina Olah Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat, Dibeli Cathay Pacific

Oleh: DWJ-Manajement 27 Aug 2026
Pertamina Olah Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat, Dibeli Cathay Pacific

Langkah Strategis Pertamina dan Validasi Pasar Global

Keputusan Pertamina untuk fokus pada pengembangan SAF berbasis minyak jelantah merupakan langkah yang sangat presisi. Indonesia, sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia, memiliki potensi ketersediaan bahan baku yang melimpah, baik dari sektor industri maupun limbah rumah tangga.

Keberhasilan Pertamina dalam memproduksi SAF ini langsung mendapatkan pengakuan di kancah internasional. Masuknya Cathay Pacific—salah satu maskapai premium terbesar asal Hong Kong—sebagai pembeli produk ini menjadi bukti konkret bahwa kualitas SAF produksi dalam negeri telah memenuhi standar ketat penerbangan internasional.

Kerja sama ini tidak hanya sekadar transaksi jual-beli komoditas, tetapi juga merupakan bentuk kepercayaan global terhadap teknologi dan kapasitas industri energi Indonesia. Dengan adanya permintaan dari maskapai internasional, Pertamina memiliki peluang besar untuk melakukan ekspansi pasar ke berbagai negara yang mulai menerapkan regulasi ketat mengenai penggunaan bahan bakar hijau di sektor penerbangan.

Mengapa Cathay Pacific Memilih SAF Pertamina?

Ada beberapa faktor utama yang mendasari ketertarikan maskapai global seperti Cathay Pacific terhadap produk SAF dari Pertamina:

Kepatuhan Regulasi: Banyak negara di kawasan Asia dan Eropa mulai mewajibkan penggunaan campuran SAF dalam setiap penerbangan untuk menekan dampak perubahan iklim.

Target ESG (Environmental, Social, and Governance): Maskapai besar berkomitmen pada target keberlanjutan untuk menjaga citra di mata investor dan konsumen yang kini semakin peduli lingkungan.

Kualitas Teruji: Standar produksi Pertamina yang mampu memenuhi spesifikasi teknis mesin pesawat modern memberikan rasa aman bagi operasional maskapai.

Dampak Ekonomi: Mengubah Limbah Menjadi Rupiah

Selain dampak lingkungan, proyek pengembangan SAF ini membawa dampak ekonomi yang masif bagi dalam negeri. Pemanfaatan minyak jelantah menciptakan ekosistem ekonomi baru yang melibatkan banyak lapisan masyarakat.

Minyak jelantah yang biasanya dibuang sembarangan dan berisiko mencemari lingkungan, kini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Hal ini membuka peluang bagi pengumpulan limbah secara terorganisir, yang melibatkan pengepul lokal, UMKM, hingga industri pengolahan limbah. Dengan demikian, tercipta perputaran uang yang masuk ke lapisan ekonomi bawah melalui rantai pasok bahan baku SAF.

Di sisi makro, industri SAF dapat memperkuat neraca perdagangan Indonesia. Dengan mengekspor produk olahan bernilai tinggi (SAF) alih-alih hanya mengekspor bahan mentah, Indonesia dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi dan pendapatan devisa negara secara signifikan.