DWJ Manajement - PORTAL

Pertamina Targetkan 332 Desa Energi Berdikari hingga Akhir 2026

Oleh: DWJ-Manajement 27 Aug 2026
Pertamina Targetkan 332 Desa Energi Berdikari hingga Akhir 2026

Akselerasi Transisi Energi, Pertamina Targetkan 332 Desa Energi Berdikari hingga Akhir 2026

Upaya mendorong kemandirian energi di tingkat pedesaan melalui pemanfaatan energi terbarukan yang berkelanjutan.

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung transisi energi nasional melalui inisiatif yang menyasar langsung ke akar rumput. Melalui program unggulan Desa Energi Berdikari (DEB), perusahaan energi pelat merah ini menargetkan ekspansi besar-besaran hingga mencapai 332 desa pada akhir tahun 2026 mendatang.

Langkah ambisius ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pertamina untuk mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) di wilayah-wilayah pelosok Indonesia. Dengan target tersebut, Pertamina berencana mengimplementasikan sebanyak 269 program baru yang dirancang untuk mengintegrasikan teknologi energi bersih dengan kebutuhan ekonomi masyarakat lokal.

Mendorong Kemandirian Energi dari Desa

Program Desa Energi Berdikari bukan sekadar penyediaan infrastruktur energi, melainkan sebuah konsep pemberdayaan masyarakat yang komprehensif. Melalui program ini, masyarakat desa tidak hanya diajarkan untuk menjadi konsumen energi, tetapi juga didorong untuk mampu mengelola sumber daya energi yang tersedia di lingkungan mereka secara mandiri.

Kemandirian energi ini menjadi kunci krusial dalam menghadapi tantangan ketersediaan energi di masa depan. Dengan memanfaatkan potensi lokal, ketergantungan desa terhadap pasokan energi fosil dari luar daerah dapat diminimalisir. Hal ini tidak hanya berdampak pada ketahanan energi nasional, tetapi juga pada stabilitas ekonomi di tingkat desa.

Pertamina melihat bahwa setiap wilayah di Indonesia memiliki karakteristik geografis dan potensi sumber daya alam yang berbeda. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan dalam program DEB bersifat fleksibel dan berbasis pada potensi spesifik masing-masing daerah, baik itu energi surya, biomassa, hingga mikrohidro.

Diversifikasi Sumber Energi Terbarukan

Dalam upaya mencapai target 332 desa pada 2026, Pertamina akan fokus pada diversifikasi teknologi energi yang diterapkan. Berikut adalah beberapa jenis energi terbarukan yang menjadi pilar utama dalam program Desa Energi Berdikari:

Energi Surya (PLTS): Pemanfaatan panel surya untuk kebutuhan listrik rumah tangga maupun fasilitas umum di desa-desa yang memiliki paparan sinar matahari tinggi.

Biomassa dan Bioenergi: Mengolah limbah pertanian atau limbah organik lainnya menjadi sumber energi yang dapat digunakan untuk memasak atau pembangkit listrik skala kecil.

Energi Mikrohidro: Memanfaatkan aliran sungai atau air terjun kecil di pegunungan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik lokal.

Biogas: Memanfaatkan kotoran ternak sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan untuk kebutuhan domestik.

Dengan variasi teknologi ini, Pertamina memastikan bahwa setiap program yang dijalankan benar-benar relevan dengan kondisi alam setempat, sehingga keberlanjutan program dapat terjaga dalam jangka panjang.

Dampak Sosio-Ekonomi dan Keberlanjutan Lingkungan

Implementasi Desa Energi Berdikari membawa dampak ganda (double impact) bagi masyarakat. Secara ekonomi, ketersediaan energi yang murah dan stabil memungkinkan munculnya unit-unit usaha baru di pedesaan. Misalnya, penggunaan mesin penggiling padi yang bertenaga listrik surya atau pengolahan hasil tani menggunakan tenaga biomassa.

Ketika biaya energi dapat ditekan, margin keuntungan pelaku UMKM di desa akan meningkat. Hal ini pada akhirnya akan menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi arus urbanisasi dari desa ke kota, karena aktivitas ekonomi di desa menjadi lebih menjanjikan.

Dari sisi lingkungan, program ini secara langsung berkontribusi pada pengurangan emisi karbon secara nasional. Dengan mengganti penggunaan bahan bakar fosil dengan energi bersih, jejak karbon di tingkat desa dapat ditekan secara signifikan. Ini sejalan dengan visi pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.

Sinergi dengan Target ESG Perusahaan

Ekspansi program DEB juga menjadi bukti nyata implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan oleh Pertamina. Perusahaan tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga pada pelestarian lingkungan dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat.

Melalui program ini, Pertamina membangun ekosistem di mana korporasi, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat berkolaborasi. Sinergi ini penting agar infrastruktur energi yang telah dibangun tidak terbengkalai, melainkan terus dikelola dan dikembangkan oleh masyarakat setempat melalui kelompok pemanfaat energi.

Tantangan dan Strategi Implementasi ke Depan

Meskipun memiliki target yang sangat optimis, Pertamina menyadari bahwa memperluas program hingga ke 332 desa bukanlah perkara mudah. Terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi, mulai dari kendala geografis, keterbatasan akses teknologi, hingga perlunya edukasi intensif kepada masyarakat mengenai cara pengelolaan energi terbarukan.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pertamina telah menyiapkan beberapa strategi kunci:

Edukasi dan Pendampingan: Melakukan pelatihan teknis bagi pemuda setempat agar mereka mampu melakukan perawatan dasar pada infrastruktur energi yang telah dipasang.

Kolaborasi Multi-stakeholder: Menggandeng pemerintah desa, akademisi, dan sektor swasta lainnya untuk memastikan keberlanjutan operasional dan pengembangan teknologi.

Digitalisasi Monitoring: Penggunaan teknologi digital untuk memantau kinerja instalasi energi di berbagai desa secara real-time, sehingga kendala teknis dapat dideteksi lebih dini.

Pembiayaan Kreatif: Mencari skema pendanaan yang memungkinkan masyarakat dapat memiliki atau mengelola aset energi mereka sendiri tanpa beban finansial yang berat di awal.

Dengan langkah-langkah strategis ini, Pertamina optimis bahwa target 269 program baru hingga tahun 2026 dapat tercapai dengan kualitas implementasi yang tinggi, bukan sekadar mengejar angka kuantitas semata.

Kesimpulan

Target Pertamina untuk mencapai 332 Desa Energi Berdikari pada akhir tahun 2026 merupakan langkah monumental dalam peta jalan transisi energi Indonesia. Program ini bukan hanya tentang menyediakan listrik atau bahan bakar, melainkan tentang membangun fondasi kemandirian ekonomi dan kedaulatan energi bagi masyarakat desa. Melalui diversifikasi energi terbarukan seperti surya, biomassa, dan mikrohidro, Pertamina tidak hanya membantu menurunkan emisi karbon, tetapi juga membuka peluang kesejahteraan baru di pelosok negeri. Keberhasilan program ini akan menjadi bukti nyata bahwa transisi energi dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan sosial dan penguatan ekonomi kerakyatan.

Menampilkan Seluruh Artikel