DWJ Manajement - PORTAL

Pertashop Terancam Tutup, Penjualan Pertamax Anjlok dari 400 Jadi 100 Liter

Oleh: DWJ-Manajement • 08 Sep 2026
Pertashop Terancam Tutup, Penjualan Pertamax Anjlok dari 400 Jadi 100 Liter

Penjualan BBM Non-Subsidi Anjlok Drastis, Ratusan Pertashop Terancam Gulung Tikar

Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil serta fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi kini mulai memberikan tekanan hebat bagi para mitra pengelola Pertashop. Penurunan volume penjualan yang sangat signifikan dilaporkan telah mengancam keberlangsungan bisnis ritel BBM skala mikro ini di berbagai wilayah.

Anjloknya Penjualan BBM Non-Subsidi: Dari 400 Liter Menjadi 100 Liter

Fenomena penurunan daya beli masyarakat terhadap bahan bakar berkualitas tinggi atau non-subsidi kini menjadi isu serius yang menyeret para pelaku usaha kecil di sektor energi. Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI) melaporkan adanya tren penurunan penjualan yang sangat tajam, terutama pada produk BBM non-subsidi seperti Pertamax.

Berdasarkan data yang dihimpun dari lapangan, sejumlah mitra Pertashop mengalami penurunan volume penjualan yang sangat drastis. Jika sebelumnya rata-rata penjualan harian untuk produk Pertamax dapat mencapai angka 400 liter per hari, kini angka tersebut merosot tajam hingga menyentuh level 100 liter saja per hari. Penurunan sebesar 75 persen ini menjadi sinyal bahaya bagi kesehatan finansial para pengelola Pertashop.

Penurunan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan mencerminkan perubahan perilaku konsumen yang sangat masif. Masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM non-subsidi kini mulai melakukan migrasi besar-besaran kembali ke BBM bersubsidi demi menjaga stabilitas pengeluaran rumah tangga mereka.

Penyebab Utama Penurunan Daya Beli Masyarakat

HPMPI menyoroti bahwa faktor utama di balik fenomena ini adalah kenaikan harga BBM non-subsidi yang tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan masyarakat secara proporsional. Dalam konteks ekonomi mikro, selisih harga antara BBM bersubsidi (seperti Pertalite) dengan BBM non-subsidi (seperti Pertamax) menjadi faktor penentu utama bagi konsumen dalam mengambil keputusan.

Berikut adalah beberapa faktor yang diidentifikasi menjadi pemicu utama anjloknya penjualan di Pertashop:

Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi: Fluktuasi harga minyak mentah dunia yang berdampak pada penyesuaian harga BBM non-subsidi di SPBU maupun Pertashop.

Penurunan Daya Beli: Tekanan inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya membuat masyarakat lebih memprioritaskan pengeluaran dasar, sehingga beralih ke BBM yang lebih murah.

Efek Substitusi: Konsumen melakukan substitusi penggunaan bahan bakar dari produk berkualitas tinggi (Pertamax) kembali ke produk bersubsidi (Pertalite).

Keterbatasan Margin Keuntungan: Penurunan volume penjualan membuat margin keuntungan yang didapat mitra menjadi sangat tipis, bahkan berisiko merugi jika tidak mampu menutupi biaya operasional.