Jika ekosistem bisnis Pertashop ini runtuh karena masalah daya beli dan harga, maka upaya pemerintah untuk melakukan pemerataan distribusi energi berkualitas akan mengalami kemunduran. Masyarakat di daerah terpencil mungkin akan kembali kesulitan mendapatkan akses BBM yang standar jika unit-unit ritel kecil ini berhenti beroperasi.
Harapan dan Langkah ke Depan
Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI) berharap adanya perhatian khusus dari pihak regulator dan Pertamina untuk mencari solusi jangka panjang. Diperlukan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara harga BBM yang kompetitif bagi konsumen dengan margin keuntungan yang sehat bagi mitra usaha.
Beberapa langkah yang diusulkan oleh para pelaku usaha antara lain:
Evaluasi Kebijakan Harga: Perlunya meninjau kembali struktur harga BBM non-subsidi agar tetap terjangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.
Pemberian Stimulus: Bentuk dukungan berupa keringanan biaya operasional atau insentif tertentu bagi mitra yang terdampak penurunan drastis penjualan.
Diversifikasi Produk: Mendorong mitra untuk tidak hanya bergantung pada penjualan BBM, tetapi juga mengembangkan layanan tambahan lainnya guna meningkatkan pendapatan.
Optimalisasi Program Loyalitas: Penguatan program-program yang dapat menarik minat konsumen untuk tetap menggunakan BBM non-subsidi melalui promo atau poin reward.
Kesimpulan
Penurunan penjualan BBM non-subsidi di Pertashop dari 400 liter menjadi hanya 100 liter per hari merupakan alarm keras bagi industri ritel energi di Indonesia. Fenomena ini bukan sekadar masalah penurunan angka penjualan, melainkan manifestasi dari penurunan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga energi. Tanpa adanya langkah mitigasi yang tepat, baik dari sisi kebijakan harga maupun dukungan operasional bagi mitra, ancaman penutupan unit-unit Pertashop akan menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan distribusi energi di tingkat mikro serta stabilitas ekonomi para pelaku usaha kecil di daerah.