Keberlanjutan Lingkungan: Bahan alami cenderung lebih mudah terurai secara hayati (biodegradable), sehingga tidak mencemari ekosistem air saat limbah produk dibuang.
Tren Pasar: Adanya pergeseran gaya hidup masyarakat menuju penggunaan produk organik dan berbahan dasar nabati.
Kekayaan Biodiversitas: Indonesia memiliki ribuan spesies tanaman yang berpotensi memiliki sifat antibakteri dan pengontrol keringat yang efektif.
Peran Strategis BRIN dalam Ekosistem Inovasi
Sebagai lembaga yang membidangi riset di Indonesia, BRIN memainkan peran sebagai motor penggerak inovasi. Dalam kerja sama dengan PT Modiva International, BRIN tidak hanya bertindak sebagai penyedia data, tetapi juga menyediakan fasilitas laboratorium canggih, tenaga ahli, dan metodologi riset yang terstandarisasi.
Hilirisasi riset yang diusung BRIN bertujuan untuk memangkas jarak antara dunia akademis/penelitian dengan dunia industri. Seringkali, temuan hebat di laboratorium berhenti menjadi jurnal ilmiah tanpa pernah sampai ke tangan konsumen. Melalui skema kerja sama dengan perusahaan seperti PT Modiva International, temuan tersebut mendapatkan jalur cepat untuk melalui uji coba skala industri, proses produksi massal, hingga distribusi ke pasar.
Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama dalam ekonomi berbasis inovasi. Dengan memperkuat riset di sektor manufaktur produk konsumen, Indonesia tidak hanya akan menjadi pasar bagi produk global, tetapi juga menjadi produsen berbasis teknologi dan riset.
Tantangan dan Potensi Pengembangan Bahan Aktif Lokal
Meskipun potensinya sangat besar, mengembangkan bahan aktif alami untuk antiperspiran bukanlah perkara mudah. Produk antiperspiran secara teknis bekerja dengan cara menyumbat saluran keringat sementara menggunakan garam aluminium. Mengganti fungsi ini dengan bahan alami menuntut presisi ilmiah yang tinggi agar efektivitas produk tetap terjaga tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna.
Beberapa tantangan yang dihadapi dalam proses pengembangan ini meliputi: