Sanitasi dan Kesehatan: Keterbatasan akses terhadap air bersih dan sistem pembuangan limbah yang memadai meningkatkan risiko penyakit menular di lingkungan yang padat penduduk.
Kerentanan Bencana: Bangunan yang tidak memiliki struktur kuat membuat warga sangat rentan terhadap bencana, mulai dari kebakaran akibat korsleting listrik hingga ancaman banjir saat musim hujan tiba.
Ketidakpastian Hunian: Ancaman penggusuran atau penataan ulang kota seringkali menghantui, membuat mereka sulit untuk melakukan investasi jangka panjang pada kualitas hunian mereka.
Akses Ekonomi: Meskipun berada di pusat kota, banyak dari mereka yang bekerja di sektor informal dengan penghasilan yang tidak menentu, yang membuat mereka terjebak dalam siklus kemiskinan.
Mengapa Ketimpangan Ini Terus Bertahan?
Muncul pertanyaan besar: Mengapa di tengah kota paling kaya di Indonesia, pemukiman kumuh masih tetap eksis dan bahkan bertambah luas? Jawabannya kompleks dan melibatkan berbagai faktor sistemik.
Pertama, adalah masalah harga tanah yang sudah tidak masuk akal bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Urbanisasi yang terus meningkat menyebabkan arus migrasi ke Jakarta tidak terbendung. Para pencari kerja dari daerah datang dengan harapan besar, namun saat tiba di Jakarta, mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa biaya hidup dan harga properti sangatlah tinggi.
Kedua, adalah keterbatasan penyediaan hunian vertikal atau rumah susun yang terjangkau oleh pemerintah. Meskipun berbagai program pembangunan rusun telah dilakukan, jumlahnya belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk dan kebutuhan akan tempat tinggal di lokasi yang strategis (dekat dengan tempat kerja).
Ketiga, adanya kebutuhan akan tenaga kerja murah di sektor informal. Kota besar membutuhkan jasa dari pemulung, pedagang kaki lima, pekerja kasar, dan sektor jasa lainnya. Pemukiman semi permanen di tengah kota seringkali menjadi satu-satunya solusi bagi para pekerja ini untuk tetap bisa tinggal dekat dengan sumber penghasilan mereka, meskipun dengan risiko lingkungan yang buruk.
Dampak Psikologis dan Sosial dari Ketimpangan Visual
Secara psikologis, pemandangan kontras ini dapat menciptakan perasaan keterasingan bagi warga di pemukiman kumuh. Melihat kemewahan yang hanya berjarak beberapa langkah namun secara ekonomi tidak mungkin mereka gapai, dapat memicu rasa frustrasi sosial. Di sisi lain, bagi masyarakat kelas menengah ke atas, keberadaan pemukiman ini seringkali hanya dianggap sebagai "pemandangan sampingan" yang tidak mengganggu ritme kehidupan mereka.
Jika tidak ditangani dengan pendekatan yang manusiawi, ketimpangan ruang ini dapat memicu gesekan sosial. Ketidakadilan spasial—di mana ruang kota hanya dikuasai oleh pemilik modal sementara rakyat kecil terpinggirkan ke sudut-sudut yang tidak layak—adalah bom waktu bagi stabilitas sosial di masa depan.