Selain itu, aspek non-struktural atau mitigasi berbasis masyarakat menjadi kunci. Sehebat apa pun teknologi peringatan dini yang dimiliki, jika masyarakat tidak memiliki literasi bencana dan tidak tahu apa yang harus dilakukan saat alarm berbunyi, maka teknologi tersebut menjadi sia-sia. Oleh karena itu, anggaran mitigasi juga harus dialokasikan untuk program edukasi, simulasi bencana secara rutin di sekolah-sekolah, dan penguatan komunitas lokal (community-based disaster risk management).
Pemerintah perlu memastikan bahwa kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari budaya masyarakat. Hal ini melibatkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, sektor swasta, hingga organisasi kemanusiaan.
Langkah Strategis Menuju Indonesia Tangguh Bencana
Menyongsong kepemimpinan baru, visi Prabowo untuk menambah anggaran mitigasi harus diikuti dengan perencanaan strategis yang matang. Beberapa langkah yang perlu diambil meliputi:
Sinkronisasi Data Nasional: Membangun database bencana yang terintegrasi antar lembaga (BNPB, BMKG, PVMBG) agar kebijakan yang diambil berbasis pada data yang akurat dan real-time.
Peningkatan Kapasitas SDM: Melatih tenaga ahli di bidang manajemen bencana dan memperkuat peran relawan di tingkat lokal.
Audit Infrastruktur Berkala: Melakukan evaluasi terhadap ketahanan infrastruktur vital yang ada saat ini untuk menentukan prioritas perbaikan.
Kolaborasi Internasional: Mengadopsi praktik terbaik (best practices) dari negara-negara yang sukses mengelola risiko bencana, seperti Jepang atau Selandia Baru.
Dengan komitmen politik yang kuat dan dukungan anggaran yang memadai, Indonesia memiliki peluang besar untuk bertransformasi dari negara yang rentan menjadi negara yang tangguh dan resilien terhadap bencana.
Kesimpulan
Pernyataan Prabowo Subianto mengenai penambahan anggaran mitigasi bencana secara signifikan merupakan langkah visioner yang sangat diperlukan. Di tengah ancaman bencana alam yang kian dinamis, pemerintah tidak lagi bisa hanya mengandalkan pola penanganan pascabencana. Fokus harus dialihkan secara masif pada upaya pencegahan, penguatan infrastruktur, modernisasi teknologi peringatan dini, dan edukasi masyarakat. Investasi pada mitigasi bukan sekadar pengeluaran negara, melainkan investasi untuk menyelamatkan nyawa dan menjaga stabilitas ekonomi nasional jangka panjang demi masa depan Indonesia yang lebih aman dan tangguh.