Prabowo Patok Kurs Rupiah Rp 17.500 di 2027, Mengintip Strategi Ekonomi RAPBN Terbaru
Pemerintah menetapkan asumsi makro ekonomi yang menantang, mulai dari target inflasi rendah hingga pengendalian harga minyak mentah dunia sebagai landasan fiskal.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai memetakan arah kebijakan ekonomi jangka menengah melalui penetapan asumsi ekonomi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Dalam langkah strategis ini, pemerintah menetapkan sejumlah target krusial yang akan menjadi kompas bagi pengelolaan keuangan negara dalam tiga tahun ke depan.
Salah satu poin yang paling menyita perhatian publik adalah penetapan asumsi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang dipatok pada level Rp 17.500 per Dolar AS. Angka ini mencerminkan sikap konservatif sekaligus antisipatif pemerintah terhadap fluktuasi pasar keuangan global yang kian tidak menentu.
Target Makro Ekonomi: Antara Optimisme dan Kewaspadaan
Penetapan asumsi ekonomi makro bukan sekadar deretan angka di atas kertas. Bagi pemerintah, angka-angka ini adalah jangkar yang menentukan bagaimana belanja negara akan dialokasikan, bagaimana utang akan dikelola, dan bagaimana kebijakan subsidi akan diarahkan. Dalam RAPBN 2027, pemerintah tampak mencoba menyeimbangkan antara ambisi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga.
Berikut adalah poin-poin utama asumsi ekonomi makro yang ditetapkan oleh pemerintah untuk tahun 2027:
Nilai Tukar Rupiah: Dipatok pada angka Rp 17.500 per Dolar AS.
Inflasi: Ditargetkan tetap terkendali pada level 2,5 persen.
Harga Minyak Mentah (ICP): Diasumsikan berada di level US$ 75 per barel.
Tingkat Kemiskinan: Ditargetkan turun ke kisaran 6 persen hingga 6,5 persen.
Langkah penetapan nilai tukar di level Rp 17.500 dinilai sebagai bentuk mitigasi risiko. Dengan memasukkan angka yang cenderung lebih tinggi (lemah) dibandingkan nilai tukar saat ini, pemerintah memiliki ruang gerak (buffer) jika terjadi guncangan ekonomi global atau penguatan Dolar AS yang tidak terduga.