DWJ Manajement - PORTAL

Prabowo Singgung BUMN Seenaknya, Mau Usut Direksi 30 Tahun ke Belakang

Oleh: DWJ-Manajement • 14 Aug 2026
Prabowo Singgung BUMN Seenaknya, Mau Usut Direksi 30 Tahun ke Belakang

```html

Sentil Kinerja BUMN yang Dinilai 'Seenaknya', Presiden Prabowo Berencana Usut Direksi Hingga 30 Tahun ke Belakang

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto memberikan peringatan keras kepada jajaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam pernyataan terbarunya, Presiden menyoroti adanya indikasi manajemen perusahaan plat merah yang bekerja tanpa arah yang jelas atau cenderung "seenaknya". Tak hanya sekadar memberi teguran, Prabowo bahkan melontarkan pernyataan mengejutkan terkait rencana audit mendalam yang menyasar masa lalu manajemen BUMN.

Presiden menekankan bahwa BUMN bukan sekadar entitas bisnis biasa, melainkan pilar ekonomi negara yang memegang mandat untuk menyejahterakan rakyat. Oleh karena itu, setiap kebijakan dan langkah korporasi yang diambil oleh para direksi harus dapat dipertanggungjawabkan secara transparan dan berorientasi pada kepentingan nasional, bukan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Sorotan Tajam terhadap Manajemen BUMN yang Tidak Profesional

Kritik pedas Presiden Prabowo muncul menyusul adanya persepsi bahwa beberapa BUMN masih beroperasi dengan pola manajemen yang tidak efisien dan sering kali mengabaikan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (*Good Corporate Governance*). Istilah "bekerja seenaknya" yang dilontarkan Presiden merujuk pada pengambilan keputusan yang tidak berbasis data, kurangnya koordinasi antar-lembaga, hingga adanya inefisiensi anggaran yang masif.

Menurut Presiden, BUMN seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi yang tangguh. Namun, jika pengelolaan aset negara yang begitu besar justru dilakukan tanpa pengawasan ketat dan standar profesionalisme yang tinggi, maka hal tersebut justru akan menjadi beban bagi APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Prabowo ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan negara ke dalam BUMN harus kembali dalam bentuk keuntungan yang nyata bagi negara dan pelayanan publik yang optimal.

Beberapa poin utama yang menjadi perhatian Presiden dalam manajemen BUMN saat ini meliputi:

Inefisiensi Operasional: Adanya tumpang tindih fungsi antar-perusahaan BUMN yang mengakibatkan pemborosan sumber daya.

Lemahnya Akuntabilitas: Pengambilan keputusan strategis yang sering kali tidak melalui kajian risiko yang mendalam.

Budaya Kerja yang Stagnan: Kurangnya inovasi dan adaptasi terhadap perubahan pasar global yang cepat.

Potensi Kerugian Negara: Manajemen yang tidak hati-hati dalam melakukan ekspansi atau investasi yang berisiko tinggi.

Rencana Audit Radikal: Mengusut Jejak Direksi 30 Tahun ke Belakang

Hal yang paling mengejutkan dari pernyataan Presiden Prabowo adalah niatnya untuk melakukan penelusuran sejarah manajemen BUMN secara ekstrem. Beliau menyatakan ingin mengusut kebijakan dan tindakan para direksi, bahkan jika harus menarik mundur hingga 30 tahun ke belakang.

Langkah ini dipandang sebagai upaya "pembersihan total" terhadap praktik-praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang diduga telah mendarah daging dalam sistem birokrasi BUMN selama beberapa dekade terakhir. Dengan mengusut masa lalu hingga tiga dekade, pemerintah ingin melihat pola kerusakan sistemik yang mungkin selama ini tersembunyi di balik pergantian kepemimpinan.

Audit historis ini bertujuan untuk:

Mengidentifikasi Kebocoran Anggaran: Mencari tahu di mana saja terjadi pemborosan atau penggelapan dana dalam proyek-proyek strategis masa lalu.

Menemukan Aset yang Hilang: Melacak aset negara yang diduga telah dialihkan atau disalahgunakan melalui manajemen yang buruk.

Memutus Rantai Budaya Korup: Memastikan bahwa praktik-praktik lama tidak terbawa ke dalam kepemimpinan BUMN di era pemerintahan saat ini.

Evaluasi Kepemimpinan: Memberikan efek jera bagi para mantan pejabat atau direksi yang telah melakukan pelanggaran hukum atau etika berat.

Meskipun langkah ini dinilai sangat berani, para pengamat hukum mengingatkan bahwa proses audit hingga 30 tahun ke belakang akan menghadapi tantangan administratif dan hukum yang luar biasa besar. Perubahan regulasi, dokumentasi yang mungkin sudah hilang, serta masa kedaluwarsa tuntutan hukum menjadi kerikil tajam yang harus dihadapi oleh pemerintah.

BUMN sebagai Pilar Strategis Ekonomi Nasional

Pentingnya pembenahan BUMN tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebagai pemegang aset strategis, mulai dari sektor energi, perbankan, hingga infrastruktur, BUMN memiliki pengaruh langsung terhadap stabilitas ekonomi makro Indonesia. Ketika sebuah BUMN mengalami kegagalan manajemen, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan tersebut, tetapi juga merembet ke stabilitas pasar keuangan dan kepercayaan investor asing.

Presiden Prabowo menyadari betul bahwa transformasi BUMN adalah kunci untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Jika BUMN mampu dikelola secara profesional layaknya perusahaan global, maka Indonesia akan memiliki "mesin uang" yang kuat untuk membiayai pembangunan nasional tanpa harus terus-menerus bergantung pada utang luar negeri.

Namun, transformasi ini memerlukan komitmen yang tidak setengah-setengah. Perubahan budaya kerja dari budaya birokrasi yang kaku menuju budaya korporasi yang dinamis dan kompetitif harus dilakukan secara menyeluruh. Hal ini mencakup proses rekrutmen direksi yang berbasis meritokrasi, bukan berdasarkan kedekatan politik atau titipan pihak tertentu.

Tantangan dan Harapan di Depan Mata

Rencana besar Presiden Prabowo untuk melakukan pembersihan di tubuh BUMN ini tentu akan menghadapi berbagai resistensi. Pihak-pihak yang selama ini merasa nyaman dengan sistem yang ada kemungkinan akan melakukan berbagai upaya untuk menghambat proses investigasi ini. Selain itu, koordinasi antara kementerian BUMN, lembaga pengawas seperti BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), dan aparat penegak hukum seperti KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menjadi kunci keberhasilan misi ini.

Masyarakat menaruh harapan besar pada pernyataan tegas Presiden ini. Publik menginginkan agar BUMN benar-benar menjadi milik negara yang dikelola untuk kepentingan rakyat, bukan menjadi ladang bagi segelintir elit untuk memperkaya diri. Transparansi dalam setiap langkah audit dan tindakan tegas terhadap oknum yang terbukti bersalah akan menjadi ujian pertama bagi kredibilitas pemerintahan Prabowo dalam melakukan reformasi birokrasi.

Kesimpulan

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kinerja BUMN yang dinilai "seenaknya" dan rencananya untuk mengusut manajemen hingga 30 tahun ke belakang merupakan sinyal kuat dimulainya era baru tata kelola perusahaan negara. Langkah radikal ini bertujuan untuk membersihkan praktik korupsi sistemik dan mengembalikan fungsi BUMN sebagai pilar ekonomi yang profesional dan akuntabel. Keberhasilan upaya ini akan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah dalam melakukan pengawasan, keberanian dalam menegakkan hukum, serta kemampuan untuk melakukan transformasi budaya kerja di seluruh lini perusahaan plat merah demi kemakmuran rakyat Indonesia.

```

Menampilkan Seluruh Artikel