Perebutan Mineral Strategis: Selain migas, kebutuhan dunia akan mineral tertentu untuk industri teknologi masa depan juga mulai menggeser fokus persaingan ke wilayah-wilayah yang memiliki cadangan mineral melimpah.
Intervensi Kekuatan Global: Kehadiran aktor-aktor internasional yang ingin memastikan pasokan energi mereka tetap stabil sering kali memperkeruh suasana politik lokal.
Ketimpangan Distribusi Kekayaan: Kekayaan alam yang tidak terkelola dengan tata kelola yang baik sering kali memicu kecemburuan sosial dan konflik internal di dalam negara itu sendiri.
Migas sebagai Nadi Ekonomi Global
Presiden Prabowo menyoroti betapa ketergantungan dunia terhadap minyak dan gas (migas) dari Timur Tengah masih sangat tinggi. Meskipun transisi energi menuju energi terbarukan sedang digalakkan secara global, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bahan bakar fosil masih menjadi tulang punggung transportasi dan industri skala besar.
Ketidakstabilan di satu titik di Timur Tengah, seperti di selat strategis atau zona konflik, dapat langsung berdampak pada lonjakan harga energi di seluruh dunia. Hal ini menciptakan situasi di mana negara-negara maju merasa perlu untuk "mengamankan" kawasan tersebut, yang sayangnya sering kali dilakukan dengan cara-cara yang justru memicu konflik lebih lanjut.
Pergeseran ke Perebutan Mineral
Selain migas, poin menarik yang tersirat dalam pandangan Presiden adalah mengenai mineral. Di era digital dan elektrifikasi saat ini, mineral tertentu menjadi sangat krusial. Persaingan untuk menguasai rantai pasok mineral global telah menciptakan pola konflik baru yang mirip dengan perebutan minyak di masa lalu. Timur Tengah, dengan segala kompleksitas geopolitiknya, tetap berada dalam radar persaingan material strategis ini.
Implikasi Geopolitik bagi Indonesia