Presiden menekankan pentingnya menciptakan iklim investasi yang kondusif, bukan hanya untuk menarik modal asing (Foreign Direct Investment), tetapi juga untuk mendorong penguatan modal dalam negeri. Investasi yang diharapkan adalah investasi yang menyentuh sektor riil, seperti manufaktur, infrastruktur energi terbarukan, dan teknologi digital, yang memiliki kaitan erat dengan penciptaan lapangan kerja.
3. Transformasi Sektor Manufaktur
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Indonesia harus memperkuat basis industrinya. Transformasi dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi berbasis manufaktur adalah kunci. Sektor manufaktur memiliki kemampuan untuk menciptakan efisiensi ekonomi dan mendorong inovasi teknologi yang akan meningkatkan daya saing bangsa di kancah internasional.
Tantangan Global dan Ketahanan Ekonomi Nasional
Presiden juga menyadari bahwa menjalankan mesin pertumbuhan ini tidaklah mudah. Indonesia dihadapkan pada ketidakpastian geopolitik global, fluktuasi harga komoditas, dan dinamika ekonomi dunia yang tidak menentu. Oleh karena itu, keberadaan mesin ekonomi yang kuat harus dibarengi dengan ketahanan fiskal yang sehat.
Prabowo mengingatkan bahwa pemerintah harus sangat disiplin dalam mengelola APBN. Pengeluaran untuk program sosial harus tetap terkendali agar tidak mengganggu kapasitas pemerintah dalam membiayai pembangunan infrastruktur strategis dan penguatan pertahanan nasional. Sinergi antara kebijakan fiskal yang ketat dan kebijakan moneter yang stabil menjadi prasyarat mutlak agar mesin pertumbuhan dapat berjalan tanpa hambatan inflasi yang tinggi.
Selain itu, peningkatan kualitas birokrasi dan pemberantasan korupsi juga menjadi agenda krusial. Tanpa efisiensi birokrasi, investasi akan sulit masuk, dan program-program seperti Kopdes tidak akan mencapai sasaran yang optimal karena adanya kebocoran anggaran.
Kesimpulan
Visi ekonomi Presiden Prabowo Subianto menunjukkan adanya pemisahan yang jelas antara program stimulus sosial dengan penggerak ekonomi struktural. Program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa diposisikan sebagai instrumen untuk membangun kualitas manusia dan memperkuat ekonomi akar rumput, yang berfungsi sebagai fondasi pendukung.
Namun, "mesin" utama yang akan menentukan kecepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terletak pada hilirisasi industri, penguatan sektor manufaktur, dan peningkatan arus investasi di sektor riil. Keberhasilan visi ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara belanja sosial yang produktif dengan disiplin fiskal yang ketat, serta kemampuan menciptakan ekosistem yang ramah bagi para pelaku usaha untuk terus berkontribusi pada produk domestik bruto (PDB) nasional.