Sebagai wilayah yang memiliki tutupan hutan luas dan sistem drainase yang kompleks, Sumatera dan Kalimantan diprediksi akan menjadi salah satu wilayah pertama yang merasakan peningkatan intensitas hujan. Masyarakat di daerah aliran sungai (DAS) diminta untuk waspada terhadap potensi kenaikan debit air.
2. Pulau Jawa dan Bali
Untuk wilayah Pulau Jawa, musim hujan pada November 2026 diperkirakan akan membawa dampak pada mobilitas masyarakat dan sektor transportasi. Intensitas hujan yang tinggi di kawasan perkotaan seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya berpotensi memicu genangan air atau banjir lokal jika sistem drainase tidak berfungsi optimal.
3. Nusa Tenggara dan Sulawesi
Wilayah Nusa Tenggara biasanya memiliki durasi musim hujan yang lebih singkat dibandingkan wilayah barat Indonesia. Namun, dengan prediksi musim hujan yang dimulai November, masyarakat di wilayah ini perlu mempersiapkan cadangan air bersih untuk menghadapi fluktuasi ketersediaan air di masa mendatang.
Dampak dan Risiko Bencana Hidrometeorologi
Masuknya musim hujan bukan hanya soal perubahan suhu dan kelembapan, melainkan juga tentang kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana alam. BMKG memberikan peringatan dini mengenai beberapa potensi bencana hidrometeorologi yang kerap menyertai musim hujan di Indonesia.
Beberapa risiko utama yang perlu diantisipasi antara lain:
Banjir Bandang dan Banjir Luapan: Akibat curah hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi yang lama, yang menyebabkan kapasitas sungai tidak mampu menampung debit air.
Tanah Longsor: Terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah lereng perbukitan atau wilayah dengan kemiringan lereng tinggi dan struktur tanah yang labil.
Angin Kencang dan Puting Beliung: Sering terjadi selama masa transisi (pancaroba) yang dapat merusak bangunan, pepohonan, hingga infrastruktur publik.
Cuaca Ekstrem di Perairan: Gelombang tinggi yang dapat membahayakan keselamatan nelayan dan aktivitas transportasi laut.