DWJ Manajement - PORTAL

Purbaya Akui Likuiditas Kian Ketat: Kredit dan DPK Beberapa Bank Negatif

Oleh: DWJ-Manajement 21 Jul 2026
Purbaya Akui Likuiditas Kian Ketat: Kredit dan DPK Beberapa Bank Negatif

Likuiditas Perbankan Kian Ketat, Pemerintah Siapkan Suntikan Rp281 Triliun ke Himbara

JAKARTA - Sektor perbankan nasional kini tengah menghadapi tantangan serius terkait ketersediaan likuiditas yang semakin menyempit. Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar, terutama menyusul laporan mengenai pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit yang menunjukkan tren negatif pada sejumlah bank dengan skala menengah.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka mengakui adanya tekanan likuiditas yang dirasakan oleh bank-bank yang masuk dalam kategori BUKU 2 dan BUKU 3. Fenomena ini menjadi sinyal penting bagi stabilitas sistem keuangan nasional, mengingat peran krusial perbankan dalam menggerakkan roda ekonomi melalui fungsi intermediasi.

Sebagai langkah mitigasi untuk mencegah terjadinya efek domino terhadap sektor riil, pemerintah telah menyiapkan skema penyuntikan likuiditas besar-besaran. Dana sebesar Rp281 triliun direncanakan akan dialirkan melalui perbankan milik negara atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) guna menjaga keseimbangan arus kas di industri keuangan.

Tekanan Likuiditas pada Bank Skala Menengah

Kondisi perbankan saat ini menunjukkan adanya disparitas yang cukup lebar antara bank skala besar (KBMI 4) dengan bank-bank skala menengah. Sementara bank-bank raksasa masih mampu mengelola cadangan likuiditas dengan cukup stabil, bank-bank di kategori BUKU 2 dan BUKU 3 justru mengalami kesulitan dalam menghimpun dana murah.

Penyempitan likuiditas ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan dana untuk disalurkan kembali dalam bentuk kredit, tetapi juga memengaruhi kemampuan bank dalam menjaga rasio likuiditas yang sehat. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, terdapat risiko terjadinya stagnasi ekonomi akibat terhambatnya aliran modal ke sektor-sektor produktif.

Fenomena Kontraksi DPK dan Pertumbuhan Kredit Negatif

Salah satu poin krusial yang disoroti oleh Purbaya adalah munculnya angka negatif pada pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit di beberapa bank. Secara teknis, DPK merupakan bahan baku utama bagi bank untuk menjalankan operasionalnya. Ketika DPK mengalami kontraksi, bank akan kesulitan dalam membiayai aktivitas kreditnya.

Ada beberapa faktor yang diduga menjadi pemicu mengapa pertumbuhan DPK dan kredit beberapa bank menunjukkan angka negatif:

Persaingan Suku Bunga yang Ketat: Bank-bank besar cenderung menawarkan suku bunga simpanan yang lebih kompetitif untuk menarik dana masyarakat, sehingga bank menengah kesulitan bersaing.