Efisiensi Alur Pasok: Menyelidiki apakah ada ketimpangan biaya yang disebabkan oleh rantai pasok yang terlalu panjang atau tidak efisien.
Sinkronisasi Data: Mencocokkan data laporan keuangan InJourney dengan data realisasi operasional dari Kementerian Perhubungan.
InJourney di Bawah Mikroskop Pengawasan
InJourney, sebagai entitas yang mengelola ekosistem pariwisata dan pendukungnya, memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung target pemerintah meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik. Namun, beban biaya logistik yang tinggi seringkali menjadi "rem" bagi daya saing destinasi wisata Indonesia dibandingkan negara tetangga seperti Thailand atau Vietnam.
Jika biaya logistik untuk mobilitas wisatawan, distribusi logistik di kawasan wisata, hingga biaya operasional bandara tidak dikelola dengan transparan, maka hal tersebut akan berdampak pada harga akhir yang harus dibayar oleh konsumen. Hal inilah yang memicu urgensi dilakukannya audit pajak secara "habis-habisan".
Dalam proses diskusi yang sedang berjalan, InJourney diminta untuk segera melakukan koordinasi internal dengan jajaran pimpinan tertinggi mereka. Langkah ini dianggap perlu untuk menyiapkan data-data yang akurat sebelum pemeriksaan formal dilakukan oleh otoritas terkait. Transparansi menjadi kunci utama agar audit ini tidak dianggap sebagai upaya mencari kesalahan, melainkan upaya perbaikan sistemik.
Dampak Ekonomi dari Inefisiensi Logistik
Mengapa masalah biaya logistik ini begitu sensitif? Secara makro, biaya logistik yang tinggi adalah "pajak tersembunyi" bagi pelaku usaha dan masyarakat. Ketika sebuah holding besar seperti InJourney mengalami inefisiensi, dampaknya akan merembet ke sektor lain.
Berikut adalah beberapa dampak domino yang mungkin terjadi jika masalah logistik dan transparansi fiskal ini tidak segera dituntaskan: