Sinyal positif dari S&P ini mencakup beberapa aspek utama, di antaranya adalah:
Resiliensi Pertumbuhan Ekonomi: S&P melihat kemampuan ekonomi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan yang stabil di kisaran 5 persen, didorong oleh konsumsi domestik yang kuat.
Disiplin Fiskal: Komitmen pemerintah dalam menjaga defisit anggaran di bawah ambang batas yang ditetapkan menjadi poin penilaian yang sangat tinggi.
Stabilitas Moneter: Kebijakan Bank Indonesia yang efektif dalam mengendalikan inflasi dinilai memberikan kepastian bagi pelaku pasar.
Ketahanan Sektor Eksternal: Cadangan devisa yang memadai dan neraca perdagangan yang relatif terjaga memberikan bantalan terhadap guncangan eksternal.
Purbaya menyatakan bahwa sinyal dari S&P ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk pengakuan atas kerja keras pemerintah dalam mengelola stabilitas ekonomi. Sinyal positif ini diharapkan dapat menurunkan biaya pinjaman (cost of fund) bagi pemerintah dan korporasi di pasar internasional, karena risiko gagal bayar (default risk) dinilai tetap rendah.
Mengapa Rating Global Sangat Krusial bagi Indonesia?
Dalam dunia keuangan global, peringkat kredit (credit rating) bertindak sebagai bahasa universal yang digunakan oleh investor untuk menilai risiko suatu negara. Bagi Indonesia, memiliki rating yang stabil dan prospek yang positif memiliki implikasi yang sangat luas, mulai dari stabilitas nilai tukar hingga akses pendanaan.
Pertama, rating yang tinggi memungkinkan pemerintah untuk menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) dengan tingkat bunga (yield) yang lebih kompetitif. Hal ini sangat penting untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan program sosial tanpa membebani anggaran negara secara berlebihan. Kedua, bagi sektor swasta, rating negara seringkali menjadi acuan (benchmark) bagi rating korporasi di dalam negeri. Jika rating negara meningkat, maka secara otomatis daya tarik investasi perusahaan Indonesia di mata global juga akan ikut terangkat.